
Humas IAIN Sorong — Rektor IAIN Sorong, Suparto Iribaram, mengisi tausiyah dalam kegiatan Khotmil Qur’an, doa bersama, serta buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh PW Fatayat NU Papua Barat Daya bersama JMS Papua Barat Daya dan Takmir Masjid Baitussalam Sorong pada Sabtu (07/03/2026).
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Perempuan Berdaya dalam Cahaya Al-Qur’an: Refleksi Nuzulul Qur’an Bersama Fatayat NU.” Acara diawali dengan khatam Al-Qur’an yang dilakukan oleh para pengurus Fatayat NU, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama untuk almarhumah Margaretha.
Turut hadir dalam kegiatan ini perwakilan Gubernur Papua Barat Daya yang diwakili oleh Plt. Kepala Bagian Kesbangpol Provinsi Papua Barat Daya. Dalam sambutannya, ia menyampaikan pesan dari Gubernur Papua Barat Daya yang menyampaikan turut berduka cita atas wafatnya almarhumah Margaretha. Selain itu, kegiatan ini juga dinilai menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi serta meningkatkan nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat, khususnya di bulan suci Ramadan.
Dalam tausiyahnya, Rektor IAIN Sorong, Suparto Iribaram, menyampaikan bahwa bulan suci Ramadan memiliki banyak keistimewaan, salah satunya adalah peringatan Nuzulul Qur’an, yaitu momentum turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia.
Ia menegaskan bahwa dalam menghadapi perkembangan zaman dan arus informasi yang semakin cepat, umat Islam perlu kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Beberapa hal yang disampaikan dalam tausiyah tersebut antara lain:
- Peran media sosial dalam penyebaran informasi, di era digital, berbagai informasi dan berita berkembang sangat cepat melalui media sosial. Karena itu, masyarakat harus lebih bijak dalam menerima dan menyaring informasi yang beredar.
- Al-Qur’an sebagai penopang kehidupan.
Dalam berbagai situasi kehidupan yang dihadapi manusia, Al-Qur’an menjadi sumber ketenangan, penyejuk hati, sekaligus obat bagi kegelisahan.
- Al-Qur’an sebagai pelindung di era digital.
Perkembangan digitalisasi membawa berbagai perubahan dan arus informasi yang begitu deras. Al-Qur’an menjadi pedoman agar umat tetap berada pada jalan yang benar.
- Al-Qur’an sebagai pembeda.
Nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an mampu membedakan antara yang benar dan yang salah dalam kehidupan sehari-hari.

Menutup tausiyahnya, Suparto Iribaram berpesan bahwa kegiatan-kegiatan yang memberikan ilmu dan nilai keagamaan seperti ini akan membawa dampak positif bagi kehidupan masyarakat. Ia berharap kegiatan serupa terus dilaksanakan untuk membangun kehidupan yang lebih baik, religius, dan penuh nilai kebersamaan.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan buka puasa bersama yang diikuti oleh seluruh peserta kegiatan dalam suasana kebersamaan dan kekeluargaan di bulan suci Ramadan. (wi/humas)