Sejarah

SEJARAH BERDIRINYA STAIN SORONG

STID dan STAIS Al-Hikmah sebagai Embrio STAIN Sorong

Berdirinya IAIN Sorong  tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al-Hikmah Sorong atau Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta (STAIS) Al-Hikmah. IAIN Sorong tidak lain adalah perubahan status dari Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) Swasta menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong.

Secara historis, pendirian Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al-Hikmah Sorong dipelopori oleh Drs. H. Noer Hasjim Gandhi, seorang veteran tentara sukarelawan Trikora yang ditugaskan ke Irian Barat tahun 1962 oleh Departemen Agama RI. Dengan semangat dan idealisme tinggi, serta keyakinan dan keikhlasan pengabdian ingin memajukan pendidikan dan syiar Islam bagi masyarakat muslim Papua, maka diajaklah sejumlah tokoh muslim yang ada di Kota Sorong untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita luhur tersebut. Salah satu tokoh agama yang merespon rencana  itu, adalah bapak Drs. H. Uso. Beliau selain tokoh agama Islam, ia juga tokoh pendidik yang saat itu menjabat sebagai kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) yang kini menjadi MAN Model Sorong.

Kedua tokoh sentral di atas mengajak para tokoh agama Islam lokal, tokoh masyarakat, dan pengusaha muslim Sorong lainnya untuk membicarakan pendirian lembaga perguruan tinggi Islam di Papua. Pada prosesnya, setelah dimusyawarahkan dengan para tokoh muslim tersebut, maka disepakati pendirian lembaga pendidikan Islam di Sorong ini dengan nama Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID). Selain itu, dalam musyawarah juga dibicarakan dan disepakati lembaga pendidikan ini sebaiknya dinaungi oleh satu yayasan yang fokus terhadap pendidikan. Akhirnya, dibentuklah sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dengan nama Yayayan Al-Hikmah. Nama ini pula sekaligus diabadikan menjadi nama sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al-Hikmah.

Dalam mengorganisasikan lembaga baru ini, para tokoh tersebut sepakat membagi bidang kerja mereka dalam dua bagian, yaitu di Yayasan dan Lembaga Pendidikan. Tokoh yang dianggap representatif mengorganisir di Yayasan diserahkan kepada tokoh-tokoh masyarakat dan pengusaha, seperti di antaranya, Bapak Joko Susilarjo (Direktur EMKL Bina Tirta), H. A. ST. Alamsyah (Hotel Pilihan), Abd. Rahman Andrias (Hotel Indah), H. Abd. Muthalib Silehu, BA (Ketua MUI 1990-2001), H. Zarkasi Iskandar Alam (Direktur PT. WIFI) dan Drs. H. Imam Muchlis, (Departemen Agama Sorong).

Sementara di bidang Pendidikan selain diorganisir oleh Bapak Drs. H. Noer Hasjim Gandhi dan Drs. H. Uso, juga dilibatkan sejumlah tokoh pendidik dan Intelektual lainnya, seperti Ir. Salim Mas’ud, Drs. Najamuddin (Departemen Penerangan), dan Drs. Arbangi (Guru SMEA). Bahkan posisi Ketua STID pertama secara aklamasi diserahkan dan diamanahkan kepada Ir. Salim Mas’ud yang memimpin mulai tahun 1990 hingga 1994, kemudian dilanjutkan oleh Drs. H. Uso selama 12 tahun (1995-2006). Menurut, H. Noer Hasjim Gandhi dan H. Uso, eksistensi Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al-Hikmah Sorong diawali menjadi mitra Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin cabang Ambon. Karenanya, secara personal Dekan Fakultas Syariah IAIN Ambon memediasi eksistensi STID ini, bahkan sebagian Dosennya diberi kesempatan menjadi tenaga pengajar atau Dosen luar biasa di lembaga tersebut. Untuk legalitas formalnya, pihak Yayasan merespon dengan mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Yayasan Al-Hikmah No: 04/SK/YAH/VI/1990 tertanggal 18 Mei 1990. Dan saat itu, STID Al-Hikmah telah memiliki dua jurusan, yaitu Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) dan Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).

Setelah berjalan selama tiga bulan eksistensi Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al-Hikmah Sorong dilegalisasi secara formal oleh Ketua Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam (Kopertais) Wilayah VIII, Prof. Dr. Hj. Rasdiyanah pada tanggal 26 Agustus 1990. Momentum tersebut dijadikan tonggak awal berdirinya Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al-Hikmah Sorong, sekaligus dirangkaikan dengan Kuliah Umum Perdana bersama Ibu Prof. Dr. Hj. Rasdiyanah yang saat itu juga menjabat sebagai Rektor IAIN Alauddin Ujung Pandang. Pada perkembangannya satu tahun kemudian, STID Al-Hikmah Sorong resmi mendapat status terdaftar berdasarkan SK Menteri Agama RI No. 172 Tahun 1991. Delapan tahun kemudian, status terdaftarnya diperbaharui sebagaimana Surat Keputusan (SK) Menteri Agama RI No: E/314/1998, tertanggal 1 Oktober 1998.

Pada perkembangan selanjutnya, beberapa tahun setelah STID Al-Hikmah berjalan diwacanakan sebuah ide penggabungan tiga perguruan tinggi dari daerah yang berbeda untuk mendirikan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) khusus Indonesia bagian Timur. STID Al-Hikmah Sorong misalnya dengan representasi Fakultas Dakwah, IAIN Ternate dengan Fakultas Tarbiyah, dan IAIN Ambon merepresentasikan Fakultas Syariah dan Ushuluddin. Dengan pertimbangan  jurusan dan fakultas yang berbeda, ketiga pimpinan perguruan tinggi ini sepakat ingin mendirikan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di wilayah Timur dengan sistem satu manajerial. Namun, wacana itu kemudian tidak terealisasikan karena terbentur dengan sejumlah regulasi baru dalam internal Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Agama Islam Departemen Agama RI. Implikasinya kemudian, dihadirkan satu program pendidikan (prodi) Tarbiyah di STAI Al-Hikmah sebagai respon tuntutan sosial pada saat itu.

Secara kontekstual, Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah merupakan lembaga perguruan tinggi Islam yang kedua di Provinsi Papua, setelah perguruan tinggi sebelumnya telah ada di ibu kota Papua (Jayapura). Namun, setelah dilakukan pemekaran wilayah Provinsi Papua menjadi dua bagian, maka wilayah geografi Sorong masuk dalam wilayah Papua Barat. Karenanya, di Provinsi Papua Barat, STAI Al-Hikmah Sorong menjadi perguruan tinggi Islam pertama eksis di wilayah tersebut.

kondisi umum

Bidang Akademik

IAIN Sorong saat ini memiliki 3 Fakultas, 11 Jurusan dan 1 Pascasarjana dengan jumlah mahasiswa sebanyak 1.075 orang.

Bidang Administrasi Umum, Kepegawaian, Perencanaan, dan Keuangan

  • Kepegawaian terdiri dari tenaga pendidik sebanyak 40 Dosen dan tenaga kependidikan sebanyak 53 orang;
  • Keuangan bersumber dari APBN, PNBP, BOPTN dan SBSN.

Bidang Kemahasiswaan

Mahasiswa IAIN Sorong adalah lulusan MA/SMA/SMK/Pondok Pesantren dan Pendidikan sederajat dari berbagai Provinsi di Indonesia. Lembaga intra kemahasiswaan terdiri atas SEMA (Senat Mahasiswa), DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa) dan HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan). Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan meliputi UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dan UKK (Unit Kegiatan Khusus). Mahasiswa ditunjang dengan beasiswa yang bersumber dari Pemerintah, BUMN dan Lembaga Swasta.

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong

Sejalan dengan semangat Otonomi Khusus (Otsus) yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 di wilayah Papua dan Papua Barat dituntut adanya peningkatan sumber daya manusia yang handal dan kompetitif. Untuk merespon hal itu, dibutuhkan lembaga pendidikan yang dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan kualitas pendidikan. Karenanya, ketika Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah dalam operasionalisasinya selama 16 tahun (1990-2006) berupaya membenahi segala keterbatasan, kelemahan, atau bahkan kekurangan yang terjadi dalam  internal kampus. Saat itu, salah satu kelemahan dapat dilihat dalam membangun networking secara eksternal di tingkat lokal. Di sisi lain, secara faktual STAI Al-Hikmah dihadapkan pada dua persoalan atau keterbatasan internal dalam penataan bidang akademik. Kedua keterbatasan yang dimaksud, yaitu dukungan finansial (financial supporting) yang tidak normal dan infrastruktur pendidikan yang kurang memadai. Keduanya tentu berimplikasi pada output yang dihasilkan dan akhirnya, kualitas yang diharapkan relatif  jauh dari harapan.

Dalam konteks lokal, kehadiran sejumlah lembaga pendidikan tinggi di Kota Sorong, baik lembaga pendidikan tinggi agama maupun umum secara tidak langsung mempengaruhi eksistensi STAI Al-Hikmah untuk selalu membenahi diri dan merefleksi segala kelemahan dan keterbatasan yang dialaminya. Karena itu, dengan kepemimpinan Drs. H. Uso yang saat itu menjadi Ketua STAI Al-Hikmah berupaya semaksimal mungkin melakukan pembenahan dan penataan internal agar STAI Al-Hikmah ini senantiasa eksis dan survive. Menurut, Drs. H. Uso salah satu yang dapat dilakukan agar Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah bisa bertahan dan berkembang harus memiliki sumber finansial yang permanen agar dapat menopang segala aktivitas akademik, termasuk pembenahan infrastruktur pendidikan. Berdasarkan pengamatan itu, beliau bersama dengan H. Nur Hasyim Gandi, setelah dimusyawarahkan dengan pihak yayasan, maka disepakati pengusulan perubahan status Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Hikmah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri atau disingkat STAIN Sorong.

Dalam waktu yang relatif singkat, keinginan peralihan STAI Al-Hikmah Sorong yang berstatus swasta ke Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri berhasil diwujudkan setelah diperoleh respon positif atau rekomendasi dari pihak Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam (Kopertais) Wilayah VIII Makassar, kemudian ditindaklanjuti pengusulan tersebut ke tingkat Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama RI. Kurang lebih setahun dalam proses pengurusannya, maka pada tahun 2006 secara resmi peralihan status STAI Al-Hikmah menjadi STAIN berhasil direalisasikan dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 2006, tertanggal 20 Juli 2006 M, atau bertepatan dengan tanggal 25 Jumadil Akhir 1427 H. Peresmian alih status tersebut ditandai dengan ditunjuknya Dr. H. Saifuddin, MA. sebagai pejabat sementara atau Pgs. Ketua STAIN Sorong selama setahun, 2006-2007. Setelah resmi dilantik pada pertengahan tahun 2007 oleh Menteri Agama RI di Jakarta, maka Dr. H. Saifuddin, MA secara defenitif menjabat sebagai Ketua STAIN Sorong periode 2007-2011. Sebelum masa jabatan Dr. H. Saifuddin, MA berakhir, beliau meninggal dunia dan akhirnya diputuskan untuk dijadikan Pgs Ketua STAIN Sorong adalah Pembantu Ketua III yang saat itu dijabat oleh Dr. Muhammad Yusuf, M.Ag sampai tiba masa pemilihan ketua STAIN Sorong yang definitif yaitu pada bulan Maret 2012. Setelah pemilihan Ketua STAIN Sorong melalui rapat Senat perguruan tinggi akhirnya terpilihlah Prof. Dr. H. Abustani Ilyas, M.Ag tahun 2012- 2016.

Dengan berakhirnya masa kepemimpinan Prof. Dr. H. Abustani Ilyas, M.Ag,  pemilihan Ketua STAIN Sorong melalui rapat Senat perguruan tinggi untuk memberikan pertimbangan kepada beberapa calon ketua yang diusulkan ke Kementerian Agama RI untuk dilakukan Fit and Proper test yang akhirnya  terpilihlah Dr. Hamzah, M.Ag. melalui keputusan Menteri Agama untuk periode 2016-2020.

Setelah peralihan status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong tidak berarti persoalan yang akan dihadapi tidak ada. Justru, tantangan ke depannya semakin berat, sebab persoalannya bisa lebih kompleks. Kondisi sosial yang majemuk dan meningkatnya populasi masyarakat terhadap tuntutan pekerjaan merupakan aspek penting untuk diperhatikan dalam konteks Kota Sorong dan secara umum Provinsi Papua Barat. Karenanya, STAIN Sorong akan lebih meningkatkan tiga Jurusan yang dibina sekarang, yaitu Tarbiyah, Dakwah dan Komunikasi serta Syariah.

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong

Berdasarkan kebutuhan di lingkup internal STAIN Sorong yang didukung oleh aspirasi tokoh masyarakat Papua Barat yang berkembang sejak tahun 2012 dan desakan dari Pemerintah Pusat melalui arahan Dirjen Pendis Kementerian Agama RI untuk memenuhi kelengkapan Alih Status, Pimpinan STAIN Sorong membentuk Tim Alih Status STAIN Sorong dan mengajukan permohonan kepada Kementerian Agama RI sejak tahun 2017. Semangat alih status ini ditindaklanjuti dengan audiensi Pimpinan STAIN Sorong bersama Ketua Komisi VIII DPR RI Bapak Dr. H. Ali Taher pada tanggal 09 November 2017 di Gedung Nusantara II Jakarta. Tim Alih Status kemudian mengadakan Rapat Bersama antara unsur Pimpinan STAIN Sorong dan Tokoh Masyarakat pada tanggal 09 dan 12 April 2018 di Kampus STAIN Sorong dalam rangka penguatan dan persiapan proses alih status.

Dari proses pengusulan alih status tersebut, STAIN Sorong mendapatkan undangan presentasi dari Kementerian Agama RI yang kemudian dimasukkan dalam Kelompok IV yang terdiri dari STAIN Bengkalis, STAIN Takengon, STAIN Meulaboh dan STAIN Sorong. Pada tanggal 13 April 2018, Tim Alih Status  mempresentasikan Proposal Alih Status di Hotel Golden Tulip Passer Baru Jakarta di hadapan 2 (Dua) orang Assesor (Prof. Dr. Suwito, MA. dan Prof. Dr. Akhmad Mujahidin, MA.) dan Kasubdit Kelembagaan Kementerian Agama RI. Pada awal bulan Januari Tahun 2019, tim percepatan alih status IAIN Sorong mulai melakukan koordinasi yang intensif dengan Kementerian Agama (Dirjen Pendis, Prof. Dr. Phil. Komaruddin Amin, MA.; dan Direktur Pendis Prof. Dr. Arskal, MA) yang secara teknis dikendalikan oleh Biro Ortala (Drs. Afrizal Zein, M.Pd) dan timnya. Pada perkembangannya mengalami peningkatan kemajuan yang pesat untuk ditindaklanjuti oleh Kementerian terkait seperti KemenPan-RB, Kemenkum-HAM, Kemen-Keu, dan Kesekneg.

Proses panjang yang cukup melelahkan dan menyita waktu ini, memberikan keberhasilan yang cukup meyakinkan berkat dukungan dari berbagai unsur yaitu Tokoh masyarakat Papua Barat, Tokoh Lintas Agama (Pdt. Obed Mauri, dkk), Anggota DPR-RI Komisi VIII, Anggota DPR-RI dan DPD asal pemilihan Provinsi Papua Barat, anggota DPRD Kota dan Kabupaten di Provinsi papua Barat. Selain itu, dukungan dan rekomndasi tertulis dari Pemerintah Daerah Provinsi Papua Barat, Pemerintah Kota dan Pemerintah daerah (Pemda) Tingkat II. Yang tak kalah penting adalah rekomendasi dari berbagai unsur Lembaga Kemasyarakatan dan Ormas seperti Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah Provinsi Papua Barat, tingkat kota dan Kabupaten, Persekutuan Gereja-Gereja tingkat Provinsi dan Kabupaten Kota se Papua Barat. Atas usaha dan kerja keras dari berbagai unsur internal kampus dan eksternal ini, maka patut kita mensyukuri bersama bahwa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong beralih status menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong pada tanggal 28 Februari tahun 2020, dengan PERPRES No. 40 TAUN 2020.