
Humas IAIN Sorong, Rektor IAIN Sorong, Suparto Iribaram, menegaskan pentingnya pengembangan ekosistem moderasi beragama yang bertumpu pada budaya dan kearifan lokal sebagai fondasi dalam menjaga kerukunan masyarakat di tengah keberagaman. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Moderasi Beragama yang diselenggarakan STAKN Mesias Sorong di Kabupaten Sorong. Jum’at, 05.06.2026
Dalam pemaparannya, Suparto menekankan bahwa moderasi beragama tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya masyarakat. Menurutnya, nilai-nilai lokal yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Papua selama ini telah menjadi perekat hubungan antarkelompok maupun antarpemeluk agama. Karena itu, penguatan moderasi beragama perlu dibangun dengan memanfaatkan modal sosial yang telah tumbuh dalam kehidupan masyarakat.
“Budaya lokal mengajarkan kita tentang penghormatan, persaudaraan, dan semangat hidup bersama. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan prinsip moderasi beragama yang menempatkan toleransi dan keseimbangan sebagai landasan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Suparto.
Ia menjelaskan, Papua merupakan wilayah yang kaya akan keberagaman agama, suku, dan budaya. Kondisi tersebut menjadi kekuatan sekaligus tantangan yang harus dikelola secara bijaksana. Menurutnya, pendekatan berbasis kearifan lokal akan lebih mudah diterima masyarakat karena berangkat dari nilai-nilai yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, Suparto menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menanamkan pemahaman moderasi beragama kepada generasi muda. Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, kampus dapat menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif sekaligus mendorong lahirnya praktik kehidupan yang inklusif, toleran, dan harmonis.
Kegiatan yang mengusung tema “Pengembangan Ekosistem Moderasi Beragama Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal” tersebut diharapkan mampu memperkuat sinergi antara lembaga pendidikan, tokoh agama, dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang damai. Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, moderasi beragama diharapkan tidak hanya menjadi wacana akademik, tetapi juga tumbuh menjadi budaya yang hidup dan mengakar di tengah masyarakat Papua Barat Daya.
Penulis : Nir - Humas
Editor : wi – Humas