
Humas IAIN Sorong – Tiga mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong menghadiri Focus Group Discussion (FGD) Riset Restorasi Gunung Bulu Bawakaraeng yang diselenggarakan oleh Tim Peneliti – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IAIN Kendari, pada 24–25 Juni 2026 di Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, diantaranya Sulian Taufik, Sri Amalia Indah Ramadhani dan Diyah Salwa Hayati.
FGD tersebut merupakan bagian dari penelitian Post-Complex Humanitarian Emergency Gunung Bulu Bawakaraeng yang melibatkan akademisi, peneliti lintas disiplin, pegiat lingkungan, organisasi mahasiswa pencinta alam, serta perwakilan masyarakat. Dalam forum tersebut, Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. Farid F. Saenong, memaparkan pendekatan ekoteologi yang menekankan bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral dan spiritual dalam menjaga kelestarian alam.
Berdasarkan hasil kajian lapangan dan diskusi, mahasiswa IAIN Sorong yang tergabung dalam Mahasiswa Pecinta Alam (MINAGAMA) menyampaikan sejumlah catatan kritis terhadap tata kelola konservasi Gunung Bulu Bawakaraeng. Organisasi tersebut menilai pengelolaan kawasan konservasi belum sepenuhnya menunjukkan arah perlindungan ekologis yang kuat.
Salah satu sorotan utama adalah masih dibukanya ruang bagi pendakian massal di kawasan yang memiliki tingkat kerentanan ekologis tinggi. Aktivitas tersebut dinilai berpotensi mempercepat kerusakan vegetasi, meningkatkan volume sampah, memicu erosi di jalur pendakian, serta mengganggu habitat alami.

Selain itu, MINAGAMA juga menyoroti pembangunan fasilitas toilet dan musala di jalur pendakian pascakunjungan Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq. Menurut organisasi tersebut, pembangunan fasilitas tersebut belum menyentuh akar persoalan konservasi apabila tidak disertai kajian ekologis yang komprehensif serta perbaikan tata kelola kawasan.
MINAGAMA menilai bahwa persoalan utama konservasi terletak pada lemahnya pengawasan, minimnya edukasi lingkungan bagi pendaki, serta belum diterapkannya sistem pembatasan jumlah pendaki yang mengacu pada daya dukung lingkungan.
Oleh karena itu, MINAGAMA mendorong penerapan kuota pendakian berbasis daya dukung kawasan, penguatan edukasi konservasi, peningkatan pengawasan terhadap aktivitas pendaki, serta penegakan aturan secara konsisten terhadap setiap pelanggaran yang berpotensi merusak ekosistem.
Bagi MINAGAMA, Gunung Bulu Bawakaraeng bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan kawasan ekologis penting yang memiliki nilai sejarah dan fungsi strategis bagi keberlanjutan lingkungan hidup di Sulawesi Selatan. Karena itu, kebijakan konservasi di kawasan tersebut diharapkan lebih berorientasi pada perlindungan ekosistem secara berkelanjutan, bukan hanya pada pembangunan fasilitas atau pendekatan yang bersifat seremonial.
Penulis : admin minagama
Editor :wi/ humas