
HUMAS IAIN Sorong – Komitmen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) IAIN Sorong dalam mencetak pendidik yang profesional terus dibuktikan melalui kiprah para alumninya. Salah satunya adalah Pertiwi Amalia Susanti, S.Pd., alumni PGMI angkatan 2017 yang lulus pada tahun 2021. Berbekal ilmu dan pengalaman selama menempuh pendidikan di IAIN Sorong, kini ia dipercaya mengabdikan diri sebagai guru di SD Inpres 62 Kabupaten Sorong
Perjalanan karier Pertiwi tidak diraih secara instan. Ia mengawali pengalaman profesionalnya saat mengikuti Program Pengalaman Lapangan (PPL) di MI Al-Ikhtiar Al-Ma’arif 4. Setelah menyelesaikan PPL, ia kembali ke kampus untuk menuntaskan skripsi hingga akhirnya dinyatakan lulus. Tidak lama setelah wisuda, kesempatan datang ketika pihak sekolah memintanya menjadi guru pengganti bagi tenaga pendidik yang sedang menjalani cuti melahirkan.
“Setelah lulus saya mendapat panggilan untuk mengajar di MI Al-Ikhtiar Al-Ma’arif 4. Dari situlah saya mulai mengajar sambil terus mengembangkan kemampuan diri. Saya juga mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG), kemudian saat dibuka seleksi PPPK Guru saya ikut mendaftar dan alhamdulillah dinyatakan lulus,” ungkap Pertiwi.
Menjadi seorang guru bukanlah pilihan yang muncul secara tiba-tiba. Baginya, profesi tersebut telah menjadi cita-cita sejak kecil karena tumbuh di lingkungan keluarga yang seluruh anggotanya berprofesi sebagai pendidik.
“Ayah, ibu, dan kakak-kakak saya semuanya guru. Mereka menjadi inspirasi terbesar saya. Sejak awal saya memang sudah menargetkan masuk PGMI karena ingin menjadi guru kelas. Dunia pendidikan selalu menarik bagi saya, apalagi di PGMI kami dipersiapkan untuk menguasai berbagai mata pelajaran, bukan hanya satu bidang tertentu,” tuturnya.
Selama menempuh pendidikan di PGMI IAIN Sorong, terdapat sejumlah mata kuliah yang menurutnya memberikan bekal paling besar dalam menjalankan profesinya saat ini. Dua di antaranya adalah Microteaching dan Psikologi Pendidikan.
Menurut Pertiwi, mata kuliah Microteaching memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berlatih menghadapi situasi pembelajaran secara nyata sebelum terjun ke sekolah. Sementara Psikologi Pendidikan membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai karakter peserta didik yang beragam serta pendekatan yang tepat dalam mendampingi mereka.
“Yang paling saya rasakan manfaatnya adalah Microteaching dan Psikologi Pendidikan. Di sana kami benar-benar dilatih bagaimana menghadapi siswa di kelas. Saya juga masih mengingat pesan para dosen, salah satunya agar selalu membangun komunikasi yang baik dengan murid karena komunikasi menjadi kunci dalam proses pembelajaran,” jelasnya.
Kini, mengajar di satuan pendidikan tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Namun, menurutnya tantangan terbesar bukan terletak pada banyaknya pekerjaan, melainkan bagaimana memahami karakter setiap peserta didik yang berbeda-beda.
“Setiap anak memiliki karakter yang berbeda sehingga cara mendampinginya juga tidak bisa disamakan. Ilmu yang saya pelajari di PGMI, terutama Microteaching dan Psikologi Pendidikan, sangat membantu saya dalam menghadapi kondisi tersebut,” katanya.
Pertiwi juga menilai lulusan PGMI memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan program studi kependidikan lainnya. Selain dibekali kompetensi mengajar berbagai mata pelajaran umum, mahasiswa PGMI juga memperoleh penguatan pendidikan agama sehingga mampu membentuk karakter peserta didik secara lebih seimbang.
“Di PGMI kami belajar ilmu umum sekaligus ilmu agama. Menurut saya inilah yang menjadi pembeda sekaligus keunggulan, karena guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter anak,” ujarnya.
Berbicara mengenai peluang kerja, Pertiwi optimistis lulusan PGMI memiliki prospek yang sangat baik, khususnya di wilayah Papua Barat Daya. Menurutnya, kebutuhan tenaga pendidik akan selalu ada seiring berkembangnya dunia pendidikan. Namun, ia mengingatkan bahwa lulusan juga harus terus meningkatkan kompetensi agar mampu mengikuti perkembangan kurikulum dan kebutuhan zaman.
“Peluangnya sangat besar karena sekolah selalu membutuhkan guru. Namun kita juga harus terus mengembangkan keterampilan dan kemampuan, sebab kurikulum terus mengalami perubahan sehingga guru juga harus terus belajar,” ungkapnya.
Di akhir wawancara, Pertiwi memberikan pesan kepada mahasiswa PGMI IAIN Sorong maupun calon mahasiswa yang masih ragu memilih program studi tersebut. Ia mengajak generasi muda untuk tidak terpengaruh oleh stigma negatif terhadap profesi guru, melainkan melihat besarnya peran seorang pendidik dalam membangun masa depan bangsa.
“Jangan ragu memilih PGMI. Jika niat kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak Indonesia, insyaallah profesi guru akan menjadi jalan pengabdian yang penuh keberkahan. Teruslah belajar dan berikan yang terbaik di mana pun kalian berada,” pesannya.
Saat diminta menggambarkan PGMI IAIN Sorong dalam satu kalimat, Pertiwi tanpa ragu menjawab, “HEBAT.” Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama kuliah di PGMI IAIN Sorong tidak hanya bermanfaat dalam menjalankan profesi sebagai guru, tetapi juga menjadi bekal berharga untuk kehidupan keluarga, lingkungan, dan masyarakat luas.
Kisah Pertiwi Amalia Susanti menjadi bukti bahwa pendidikan di PGMI IAIN Sorong mampu melahirkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan siap menjawab kebutuhan dunia pendidikan. Melalui dedikasi para alumninya, PGMI IAIN Sorong terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak guru-guru berkualitas yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi serta membentuk generasi masa depan yang cerdas dan berkarakter.
Penulis : kar/Humas
Editor : wi/Humas