TEMU ALUMNI : PERJALANAN SAID HARDIANZA DARI MAHASISWA PAI IAIN SORONG MENJADI GURU YANG MENGINSPIRASI

Said Hardianza alumni PAI IAIN Sorong

HUMAS IAIN Sorong – Menjadi seorang guru bukanlah cita-cita yang sejak awal direncanakan oleh Said Hardianza. Namun, siapa sangka, pengalaman sederhana mengajar mengaji di lingkungan remaja masjid justru menjadi titik awal yang mengantarkannya menempuh pendidikan di Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Sorong hingga akhirnya dipercaya menjadi guru di MI Al Ishlah Kota Sorong.

Sebelum memasuki bangku kuliah, Said telah aktif mengajar Al-Qur’an di lingkungan tempat tinggalnya. Dari aktivitas tersebut, ia mulai belajar bersosialisasi, berorganisasi, sekaligus menemukan kenyamanan saat berbagi ilmu kepada orang lain. Pengalaman itulah yang perlahan mengubah arah hidupnya.

Awalnya saya memang bukan bercita-cita menjadi guru. Tetapi setelah rutin mengajar mengaji, saya merasa nyaman berada di dunia pendidikan. Saat akhirnya Allah memberikan jalan untuk kuliah di PAI IAIN Sorong, saya yakin inilah pilihan yang tepat. Saya ingin menjadi guru agama yang dapat mengajar semua kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa,” ungkapnya.

Keputusan memilih IAIN Sorong juga didukung berbagai pertimbangan. Selain lokasi kampus yang dekat dengan tempat tinggal, biaya pendidikan yang terjangkau serta tersedianya berbagai program beasiswa menjadi alasan penting baginya. Semasa kuliah, Said pernah menjadi penerima Beasiswa KIP. Meskipun sempat terhenti karena mengambil cuti, ia kembali memperoleh bantuan pendidikan melalui program beasiswa BAZNAS hingga mampu menyelesaikan studinya.

Memasuki dunia kerja sebagai guru, Said merasakan secara langsung manfaat dari ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama kuliah. Ia mengakui bahwa dirinya dahulu merupakan pribadi yang pendiam dan kurang percaya diri untuk berbicara di depan banyak orang. Namun, berbagai kegiatan akademik di Prodi PAI perlahan membentuk keberaniannya.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah mengikuti mata kuliah Microteaching. Melalui perkuliahan tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori mengajar, tetapi juga berlatih secara langsung di depan kelas sehingga terbiasa menyampaikan materi, mengelola pembelajaran, dan membangun komunikasi dengan peserta didik.

“Microteaching sangat membantu saya. Dari situ saya belajar bagaimana mengajar dengan baik, tampil percaya diri, dan menerapkan ilmu yang telah diberikan dosen. Ketika menjadi guru, pengalaman itu benar-benar terasa manfaatnya,” katanya.

Menurut Said, menjadi pendidik di era digital menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Anak-anak kini tumbuh bersama teknologi sehingga guru dituntut mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa mengabaikan nilai-nilai pendidikan.

Ia menilai penggunaan teknologi harus dikenalkan kepada peserta didik sejak dini dengan cara yang tepat. Beruntung, sekolah tempatnya mengajar telah memiliki fasilitas teknologi yang cukup memadai sehingga proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan generasi saat ini.

Di balik kemampuan akademik yang diperoleh selama kuliah, ada satu nilai yang hingga kini terus ia pegang teguh, yakni kesabaran. Nilai tersebut lahir dari berbagai nasihat para dosen yang selalu membekas dalam ingatannya.

Salah satu pesan yang paling ia ingat datang dari dosen Abdul Azis. Menurutnya, seorang pendidik harus meluruskan niat bahwa mengajar semata-mata karena Allah, bukan karena merasa diri paling pintar. Dengan niat tersebut, seorang guru akan lebih ikhlas menghadapi berbagai tantangan dalam proses mendidik peserta didik.

“Bapak Abdul Azis pernah menyampaikan bahwa kita mengajar karena Allah, bukan karena merasa pintar. Kalau mengajar karena merasa pintar, rasa kecewa akan lebih besar ketika harapan tidak sesuai. Tetapi kalau niatnya karena Allah, maka segala rasa kecewa kita serahkan kepada Allah,” tuturnya.

Bagi Said, memilih Prodi PAI IAIN Sorong merupakan keputusan yang tidak pernah ia sesali. Menurutnya, pembelajaran di PAI sangat luas karena tidak hanya membahas ilmu pendidikan, tetapi juga memperdalam pemahaman tentang ajaran Islam, sejarah perkembangan Islam, hingga berbagai persoalan keislaman yang relevan dengan kehidupan masa kini.

Ilmu tersebut, lanjutnya, menjadi bekal yang dapat diterapkan tidak hanya di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Pengalaman memperdalam kemampuan membaca Al-Qur’an selama kuliah bahkan membawanya dipercaya menjadi guru mengaji sekaligus imam masjid di lingkungan tempat tinggalnya.

Berbekal pengalaman tersebut, Said berpesan kepada mahasiswa maupun calon mahasiswa PAI agar tidak hanya fokus pada nilai akademik, tetapi juga aktif mengembangkan keterampilan diri. Kemampuan berbicara di depan umum, keberanian tampil, kesabaran dalam menghadapi peserta didik, serta kemampuan bersosialisasi menjadi kompetensi yang sangat dibutuhkan seorang pendidik di era sekarang.

Ia juga menilai lulusan PAI memiliki peluang karier yang cukup luas. Tidak hanya berkarier sebagai guru, lulusan PAI juga dapat berkontribusi di berbagai instansi pemerintah, lembaga keagamaan, maupun sektor lain yang membutuhkan kompetensi pendidikan dan keislaman.

Di akhir wawancara, Said menyampaikan harapannya agar IAIN Sorong terus berkembang menjadi perguruan tinggi yang mampu mencetak lulusan berkualitas melalui peningkatan mutu pendidikan dan perluasan akses beasiswa bagi mahasiswa.

“Saya berharap IAIN Sorong terus maju karena memiliki banyak peluang beasiswa dan kualitas pendidikan yang baik. Untuk adik-adik yang masih mempertimbangkan pilihan kuliah, jangan ragu memilih Prodi PAI. Apa yang dipelajari selama kuliah benar-benar dapat diterapkan di sekolah maupun di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Perjalanan Said Hardianza menjadi bukti bahwa setiap pengalaman, sekecil apa pun, dapat menjadi awal dari perjalanan besar. Dari ruang belajar di IAIN Sorong hingga ruang kelas MI Al Ishlah Kota Sorong, ia terus mengabdikan ilmu yang dimilikinya untuk mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman.

 

Penulis : kar/Humas
Editor  : wi/Humas
Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *