
HUMAS IAIN Sorong — Bagi sebagian orang, kelulusan dari perguruan tinggi menjadi tanda berakhirnya perjalanan belajar. Namun, bagi Zdulfikar Labale, alumni Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) IAIN Sorong yang lulus pada 2024, pengalaman selama menempuh pendidikan justru menjadi bekal yang terus hidup ketika memasuki dunia kerja. Kini, ia dipercaya mengajar Bahasa Inggris sekaligus menjadi wali kelas di SMAIT Al Izzah Kota Sorong.
Ketertarikannya pada Bahasa Inggris menjadi salah satu alasan yang mengantarkannya memilih TBI IAIN Sorong. Sejak awal, ia memang memiliki ketertarikan terhadap bahasa tersebut. Setelah mencari informasi dan mempertimbangkan pilihan program studi, langkahnya kemudian berlabuh di TBI IAIN Sorong.
Keputusan itu, menurut Zdulfikar, memberikan pengalaman yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbahasa, tetapi juga membentuk kesiapan untuk terjun ke dunia pendidikan. Salah satu pengalaman yang paling ia rasakan manfaatnya hingga saat ini adalah mata kuliah Microteaching dan pengalaman praktik lapangan atau PPL.
“Kalau melihat pengalaman, pasti mengingatnya pada mata kuliah Microteaching dan PPL karena itu sangat bermanfaat dan membantu saya hingga saat ini menjadi guru,” ujar Zdulfikar.
Pengalaman tersebut terasa semakin relevan ketika ia mulai berdiri di depan kelas sebagai seorang guru. Dalam Microteaching, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan bagaimana mengajar dan menghadapi situasi kelas. Pengalaman itu kemudian menjadi gambaran awal sebelum benar-benar berhadapan dengan siswa dalam lingkungan sekolah.
Menurutnya, menjadi guru bukan sekadar menguasai materi pelajaran. Seorang pendidik juga harus mampu memahami karakter siswa yang berbeda-beda dan menentukan pendekatan yang sesuai. Hal itu semakin ia rasakan setelah dipercaya menjadi wali kelas, sebuah tanggung jawab yang baru dijalaninya sekitar dua bulan.
“Menjadi guru dan wali kelas bukan hal yang mudah. Kita harus melihat karakter siswa yang berbeda-beda. Kebetulan saya baru dua bulan menjadi wali kelas, sehingga saya harus belajar lagi karena kita harus menjadi orang tua bagi siswa di sekolah,” tuturnya.
Pengalaman tersebut membuat Zdulfikar menyadari bahwa ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak berhenti sebagai teori. Pengetahuan tentang cara menghadapi siswa, memahami karakter peserta didik, membangun pendekatan, hingga menyusun program dan sistem pembelajaran menjadi bagian dari bekal yang kini ia gunakan dalam menjalankan tugas sebagai guru.
Ia juga menilai bahwa TBI IAIN Sorong tidak hanya memberikan kemampuan bahasa Inggris. Meskipun bahasa menjadi fokus utama program studi, mahasiswa juga mendapatkan pembelajaran yang berkaitan dengan dunia pendidikan dan cara berinteraksi dengan peserta didik.
“Memang fokus utama TBI itu bahasa, tetapi banyak hal juga yang diajarkan kepada kami. Saat kuliah kami diajarkan bagaimana cara menghadapi siswa, bagaimana melihat siswa, dan bagaimana pendekatan kita kepada siswa. Itu semua diajarkan pada saat kuliah, seperti menyusun program ajar, sistem ajar, dan lainnya,” jelasnya.
Memasuki dunia kerja setelah menjadi mahasiswa juga menghadirkan tantangan tersendiri. Bagi Zdulfikar, tantangan tersebut terletak pada bagaimana mengamalkan ilmu yang sebelumnya hanya dipelajari dan didiskusikan di ruang kuliah. Jika saat menjadi mahasiswa ia menerima dan memahami materi, ketika menjadi guru ia harus mampu menyampaikan pengetahuan tersebut kepada siswa dengan cara yang dapat dipahami.
“Ketika kuliah kita mendengar materi, tetapi ketika menjadi guru kita yang menyampaikan materi. Jadi, apa yang kita pelajari harus diaplikasikan,” katanya.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa TBI IAIN Sorong untuk tidak hanya berfokus pada perkuliahan. Menurutnya, pengalaman menjadi salah satu modal penting yang perlu dibangun sejak masih berstatus mahasiswa. Bersosialisasi, mengikuti organisasi, terlibat dalam kegiatan kampus, hingga mencoba pekerjaan sampingan yang tidak mengganggu kuliah dapat membantu mahasiswa mengenal dunia kerja lebih awal.
Ia bahkan menyarankan mahasiswa yang memiliki kesempatan untuk mencoba menjadi guru les. Pengalaman tersebut, menurutnya, dapat menjadi latihan berharga sebelum benar-benar memasuki dunia pendidikan.
“Perbanyak pengalaman, mulai bersosialisasi, ikut organisasi. Kalau bisa mengambil side job yang tidak menyulitkan waktu kuliah, misalnya menjadi guru les, karena itu sangat membantu ketika nanti terjun langsung ke dunia pendidikan,” ungkapnya.
Selain pengalaman akademik, keterlibatannya dalam kegiatan kampus juga meninggalkan kesan tersendiri. Salah satu pengalaman yang masih ia ingat adalah ketika bergabung dalam tim radio IAIN Sorong. Kegiatan tersebut memberinya ruang untuk belajar berkomunikasi dan tampil di depan umum, kemampuan yang kemudian kembali ia gunakan ketika menjalankan profesinya sebagai guru.
“Dulu saya juga menjadi tim radio di IAIN Sorong, dan itu sangat membantu kita untuk bisa tampil di depan umum,” ujarnya.
Kini, setelah merasakan sendiri bagaimana ilmu dan pengalaman selama kuliah diterapkan dalam dunia kerja, Zdulfikar memiliki pesan khusus bagi mahasiswa TBI dan generasi muda IAIN Sorong. Ia mengajak mahasiswa untuk tidak merasa rendah diri terhadap almamater dan tidak ragu membawa nama IAIN Sorong ketika memasuki dunia profesional.
Menurutnya, IAIN Sorong memiliki potensi untuk melahirkan lulusan yang mampu bersaing dengan alumni dari perguruan tinggi lainnya. Yang terpenting adalah bagaimana setiap mahasiswa menjalani prosesnya dengan sungguh-sungguh dan terus mengembangkan kemampuan.
“Jangan malu dengan almamatermu. Kampus Hijau IAIN Sorong adalah kampus yang sangat bagus dan sangat bisa bersaing dengan alumni dari kampus lain. Jangan malu, karena yang berproses adalah kita sendiri dan yang berjuang juga kita. Jadi, jangan berkecil hati,” pesannya.
Perjalanan Zdulfikar Labale menjadi salah satu gambaran bahwa proses pendidikan di IAIN Sorong dapat terus menemukan maknanya setelah mahasiswa meninggalkan bangku kuliah. Dari Microteaching, PPL, organisasi, hingga pengalaman di radio kampus, berbagai proses tersebut kini bertemu dalam satu ruang: kelas tempat ia mengajar dan mendampingi siswa.
Dari TBI IAIN Sorong menuju ruang kelas SMAIT Al Izzah, Zdulfikar membawa lebih dari sekadar ilmu Bahasa Inggris. Ia membawa pengalaman, keberanian untuk tampil, kemampuan memahami siswa, serta keyakinan bahwa almamater tempatnya berproses layak dibanggakan. Sebab pada akhirnya, perjalanan seorang alumni bukan hanya tentang ke mana ia melangkah setelah lulus, tetapi juga tentang bagaimana ilmu yang diperoleh dapat memberi manfaat bagi orang lain.
Penulis : kar/Humas
Editor : wi/Humas