
HUMAS IAIN Sorong – Menjadi lulusan terbaik tidak selalu berarti mampu menjalani setiap aktivitas tanpa kendala. Di balik sebuah pencapaian, terdapat proses panjang yang diwarnai kedisiplinan, kesibukan, kegagalan, hingga kemampuan untuk kembali bangkit dan menempatkan tanggung jawab pada prioritas utama. Perjalanan tersebut tercermin dari Babul Jannah Mansyur, lulusan terbaik Fakultas Syariah dan Dakwah IAIN Sorong dari Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) pada Wisuda IAIN Sorong Tahun 2026 dengan IPK 4,00 Predikat Dengan Pujian.
Bagi Babul, kemampuan mengatur waktu menjadi salah satu kunci utama dalam menjalani perkuliahan sekaligus berbagai aktivitas lainnya. Kebiasaan tersebut telah terbentuk sejak dirinya menempuh pendidikan di pesantren yang mengajarkannya untuk disiplin dan mengutamakan hal-hal yang memang menjadi tanggung jawab.
“Bagi saya, sistem manajemen waktu yang teratur dan berjalan dengan baik adalah prioritas utama. Saya sudah terlatih dan terdidik selama di pesantren untuk selalu mengutamakan apa yang memang sudah seharusnya,” ungkap Babul.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Babul tidak hanya berfokus pada aktivitas akademik. Ia juga menjalani berbagai kegiatan sehari-hari, mulai dari mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), mengajar dan menerima setoran hafalan di pondok pesantren, membantu usaha orang tua, mengikuti organisasi, hingga terlibat dalam berbagai ajang perlombaan, baik di dalam maupun di luar kampus.
Beragam aktivitas tersebut justru menjadi ruang belajar tersendiri bagi Babul. Ia mendapatkan banyak pengalaman yang tidak selalu diperoleh melalui bangku perkuliahan. Berinteraksi dengan banyak orang dan menjalani berbagai kegiatan membantunya melatih pola pikir, mengelola emosi, sekaligus memperluas wawasan, terutama dalam bidang pendidikan.
Namun, Babul menyadari bahwa tidak semua aktivitas dapat dijalani dengan sempurna. Ada masa ketika rasa lelah dan jenuh muncul karena rutinitas yang berulang. Ia juga pernah mengalami kesulitan ketika harus mengatur berbagai kegiatan seorang diri. Bahkan, seperti kebanyakan anak muda, ada kalanya ia terlena dengan aktivitas yang kurang produktif, salah satunya menghabiskan waktu terlalu lama dengan media sosial.
Meski demikian, ia selalu berusaha kembali kepada tanggung jawab utama sebagai mahasiswa. Perkuliahan tetap menjadi prioritas. Tugas-tugas dari dosen diupayakan selesai tepat waktu, persiapan ujian dilakukan dengan sungguh-sungguh, aktivitas di kelas tetap dijalankan, dan berbagai literatur akademik terus dibaca untuk memperluas pemahaman.
“Selalai-lalainya saya, tetap ada kesadaran untuk kembali kepada kewajiban dan prioritas utama,” tuturnya.
Bagi Babul, pengalaman tersebut justru mengajarkannya bahwa manajemen waktu bukan berarti seseorang harus selalu menjalani segala sesuatu secara sempurna. Yang lebih penting adalah memiliki kesadaran untuk mengetahui mana yang harus didahulukan dan mampu kembali kepada prioritas ketika mulai kehilangan fokus.
Sebagai lulusan terbaik Fakultas Syariah dan Dakwah, Babul juga memiliki pandangan kritis terhadap proses pembelajaran yang selama ini ia alami. Salah satu hal yang menjadi perhatiannya adalah penggunaan bahasa akademik dalam proses perkuliahan.
Menurutnya, penggunaan istilah ilmiah dan akademik memang penting karena dapat melatih mahasiswa mengenal bahasa keilmuan. Namun, penggunaan istilah yang terlalu tinggi dan terlalu sering terkadang justru menjadi tantangan bagi sebagian mahasiswa dalam memahami materi yang disampaikan.
Ia sendiri pernah mengalami situasi ketika harus mencari arti sebuah istilah yang disampaikan dosen karena belum memahami maknanya. Menurut Babul, tidak semua mahasiswa memiliki kebiasaan yang sama untuk mencari tahu kembali istilah tersebut. Karena itu, ia menilai penggunaan bahasa akademik perlu tetap diimbangi dengan gaya penyampaian yang komunikatif, persuasif, dan mudah dipahami.
“Bagus menggunakan kata ilmiah atau akademis agar mahasiswa terlatih dengan hal tersebut. Tetapi di sisi lain, tidak semua mahasiswa bisa dan mau mencari tahu arti setiap kata ilmiah. Jadi, boleh menggunakan istilah akademik, tetapi perlu tetap disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami,” jelasnya.
Selain persoalan bahasa, Babul juga menyoroti pembelajaran mengenai metodologi penelitian yang menurut pengalamannya masih perlu diperkuat melalui praktik. Selama menempuh pendidikan di Program Studi BPI, ia mempelajari metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan campuran atau mixed method. Namun, menurutnya, porsi praktik yang diberikan masih perlu ditingkatkan agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu memahami alur penelitian secara nyata.
Pengalaman tersebut membuatnya bersama sejumlah mahasiswa harus kembali belajar secara mandiri dengan membaca berbagai hasil penelitian. Tantangan tersebut semakin terasa bagi mahasiswa yang memilih menggunakan metode kuantitatif dalam penyusunan skripsi atau tugas akhir.
Karena itu, Babul berharap pembelajaran metodologi penelitian dapat memberikan lebih banyak ruang praktik, mulai dari menentukan masalah penelitian, menyusun instrumen, mengumpulkan dan mengolah data, hingga memahami proses analisis dan penyusunan hasil penelitian. Dengan demikian, mahasiswa memiliki gambaran yang lebih jelas sebelum memasuki tahap penyusunan tugas akhir.
Perkembangan teknologi juga menjadi perhatian Babul, khususnya dalam penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di lingkungan akademik. Ia mengakui bahwa sebagai mahasiswa, AI telah membantunya dalam memahami materi perkuliahan maupun menyelesaikan berbagai kebutuhan akademik.
Di tengah semakin banyaknya mahasiswa yang memanfaatkan teknologi tersebut, Babul menilai perguruan tinggi perlu memberikan pemahaman yang lebih praktis mengenai cara menggunakan AI secara tepat. Mahasiswa tidak hanya perlu mengetahui manfaatnya, tetapi juga memahami batasan, etika, serta ketentuan penggunaannya dalam kegiatan akademik.
Menurutnya, dosen dapat memberikan tutorial sederhana mengenai pemanfaatan AI dalam pembelajaran, termasuk menjelaskan bagian mana yang boleh dibantu teknologi dan bagian mana yang tetap harus dikerjakan secara mandiri oleh mahasiswa. Dengan pemahaman tersebut, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar tanpa menghilangkan proses berpikir kritis dan tanggung jawab akademik mahasiswa.
Di balik berbagai gagasan tersebut, perjalanan Babul sebagai mahasiswa juga diwarnai tantangan personal. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah menjaga hafalan Al-Qur’an di tengah kesibukan menjalani aktivitas akademik dan kegiatan lainnya.
Menjaga hafalan membutuhkan konsistensi, waktu, dan kedisiplinan. Bagi Babul, tantangan tersebut menjadi bagian dari proses yang terus ia jalani selama masa perkuliahan. Ia belajar bahwa menjaga sesuatu yang telah diperoleh membutuhkan usaha yang tidak kalah besar dibandingkan ketika pertama kali mendapatkannya.
Sementara itu, momen yang paling mengubah pola pikirnya justru datang dari sebuah pengalaman yang tidak selalu menyenangkan, yaitu kegagalan. Bagi Babul, kegagalan bukan alasan untuk berhenti, melainkan ruang untuk mengevaluasi diri dan memahami bahwa setiap proses memiliki pelajaran yang dapat dijadikan bekal untuk melangkah lebih jauh.
Dalam perjalanan tersebut, keluarga menjadi sumber kekuatan utama. Salah satu sosok yang paling memberikan motivasi kepadanya adalah sang ayah. Menurut Babul, ayahnya selalu mendorong dirinya untuk segera menyelesaikan setiap tanggung jawab yang telah dimulai. Dari sang ayah pula, ia belajar mengenai arti kesabaran yang tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi ditunjukkan melalui tindakan.
Hal lain yang paling membekas bagi Babul adalah sikap sang ayah yang tidak pernah menunjukkan kekecewaan meskipun dirinya pernah mengalami kegagalan. Dukungan tersebut membuat Babul memahami bahwa kegagalan bukan alasan bagi seseorang untuk kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
Selain ayah, guru di pesantren juga menjadi sosok yang memberikan pengaruh besar dalam perjalanan hidupnya. Ada satu pesan yang hingga kini terus diingat dan diamalkannya, yaitu, “Ke mana pun kamu pergi, kapan pun dan dalam kondisi apa pun, selalu utamakan akhlak.”
Pesan sederhana tersebut menjadi prinsip yang terus ia bawa dalam kehidupan. Bagi Babul, ilmu pengetahuan dan prestasi akademik harus berjalan beriringan dengan akhlak. Kemampuan seseorang tidak hanya dinilai dari apa yang diketahui, tetapi juga dari bagaimana ilmu tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku.
Dosen-dosen di IAIN Sorong juga memiliki peran penting dalam perjalanan akademiknya. Babul mengakui bahwa dukungan, doa, motivasi, dan bimbingan para dosen menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilannya menyelesaikan pendidikan sarjana.
“Merekalah sosok di balik selesainya pendidikan S1 saya. Tanpa dukungan, doa, dan motivasi dari mereka, saya hanya mahasiswa biasa,” ujarnya.
Sebagai lulusan BPI, Babul juga memandang bahwa alumni memiliki tanggung jawab yang besar dalam membentuk karakter generasi muda Muslim di Papua Barat Daya. Kondisi masyarakat yang memiliki keberagaman agama, suku, budaya, dan latar belakang sosial membutuhkan pendekatan yang mengedepankan toleransi dan kemampuan membangun hubungan yang sehat.
Menurutnya, lulusan BPI dapat berperan dalam menanamkan nilai-nilai toleransi, aqidah, kemampuan berkomunikasi, membangun relasi, serta mengelola emosi dengan baik. Kompetensi tersebut penting karena pembentukan karakter generasi muda tidak hanya berkaitan dengan aspek pengetahuan keagamaan, tetapi juga kemampuan menjalani kehidupan sosial secara harmonis.
Lebih dari itu, lulusan BPI memiliki peluang untuk mengambil peran sebagai konselor bagi generasi muda yang sedang menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Dengan pendekatan psikologi Islam, lulusan BPI dapat membantu masyarakat memahami persoalan yang dihadapi sekaligus memberikan pendampingan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Bagi Babul Jannah, predikat lulusan terbaik bukanlah sebuah garis akhir. Capaian tersebut justru menjadi pengingat bahwa ilmu yang telah diperoleh membawa tanggung jawab untuk terus belajar dan memberikan manfaat. Pengalaman selama berada di pesantren, menjalani perkuliahan, mengikuti organisasi, mengajar, membantu keluarga, hingga menghadapi kegagalan telah membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.
Ia percaya bahwa pendidikan tidak hanya menghasilkan seseorang yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga pribadi yang mampu mengelola diri, menghargai orang lain, menjaga akhlak, dan memberikan solusi bagi lingkungan di sekitarnya.
Kini, setelah menyelesaikan pendidikan di Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam IAIN Sorong, Babul membawa bekal yang lebih luas untuk melanjutkan perjalanan. Dengan ilmu, pengalaman, serta nilai-nilai yang telah ditanamkan sejak pesantren hingga perguruan tinggi, ia berharap dapat mengambil bagian dalam membangun generasi muda Muslim yang tidak hanya kuat dalam keimanan, tetapi juga matang dalam menghadapi kehidupan dan mampu hidup berdampingan di tengah keberagaman Papua Barat Daya.
Penulis : kar/Humas
Editor : wi/Humas