CHAIRUL ANWAR SAPUTRA, LULUSAN TERBAIK PASCASARJANA IAIN SORONG: DARI DISIPLIN, TESIS, HINGGA GAGASAN PEMBELAJARAN DIGITAL

Chairul Anwar Saputra, lulusan terbaik Pascasarjana IAIN Sorong

HUMAS IAIN Sorong – Predikat lulusan terbaik bukan semata-mata tentang capaian akademik, tetapi juga tentang kemampuan mengelola waktu, menjaga komitmen, menyelesaikan tanggung jawab, dan terus menghadirkan gagasan yang dapat memberikan manfaat. Hal tersebut tercermin dari perjalanan Chairul Anwar Saputra, lulusan terbaik Pascasarjana IAIN Sorong yang dikukuhkan dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda IAIN Sorong Tahun 2026.

Di balik pencapaiannya, Chairul harus membagi waktu antara tuntutan akademik, penelitian, penyelesaian tesis, pekerjaan, serta aktivitas pengabdian di lingkungan masyarakat Sorong. Baginya, disiplin dan manajemen waktu menjadi fondasi utama untuk menjaga keseimbangan berbagai tanggung jawab tersebut.

“Bagi saya, kunci utamanya adalah disiplin, manajemen waktu, dan menjaga komitmen terhadap setiap tanggung jawab,” ungkap Chairul.

Selama menempuh pendidikan Pascasarjana, ia berusaha menyusun skala prioritas agar setiap tanggung jawab dapat diselesaikan sesuai target. Ketika tuntutan akademik harus menjadi prioritas, ia berupaya memusatkan perhatian untuk menyelesaikannya tanpa mengabaikan tanggung jawab lainnya.

Perjalanan akademiknya semakin bermakna ketika memasuki tahap penyelesaian tesis. Chairul memilih mengangkat penelitian berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Aplikasi Moodle untuk Mata Kuliah Fiqih di IAIN Sorong.” Pemilihan topik tersebut berangkat dari pandangannya terhadap kebutuhan pembelajaran yang lebih interaktif serta mampu memanfaatkan perkembangan teknologi dalam proses pendidikan.

Melalui penelitian tersebut, ia mengembangkan media pembelajaran Fiqih dengan memanfaatkan Moodle sebagai platform pembelajaran digital. Media tersebut dapat dilengkapi dengan materi interaktif, video, kuis, evaluasi, serta aktivitas belajar mandiri sehingga mahasiswa memiliki ruang belajar yang lebih fleksibel dan beragam.

Bagi Chairul, pengalaman menyelesaikan tesis tersebut memberikan pembelajaran yang lebih luas daripada sekadar memenuhi tuntutan akademik. Ia memahami bahwa menjadi lulusan terbaik tidak hanya ditentukan oleh nilai yang diperoleh, tetapi juga oleh kemampuan seseorang dalam mengelola waktu, menyelesaikan tanggung jawab, terus belajar, dan menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai manfaat bagi pendidikan dan masyarakat.

Gagasan tersebut juga menjadi dasar bagi Chairul untuk mengembangkan inovasi pembelajaran yang ingin ia bawa dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan dasar di Tanah Papua. Ia melihat bahwa teknologi digital dapat menjadi bagian dari solusi untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik dan efektif apabila digunakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

“Inovasi yang ingin saya kembangkan adalah pembelajaran yang memadukan teknologi digital dengan pendekatan yang kontekstual,” jelasnya.

Menurutnya, penggunaan teknologi dalam pendidikan tidak seharusnya hanya bertujuan menjadikan pembelajaran terlihat modern. Teknologi harus ditempatkan sebagai sarana untuk membantu menyelesaikan persoalan pembelajaran dan menciptakan pengalaman belajar yang lebih baik. Karena itu, penggunaan teknologi perlu tetap disesuaikan dengan materi, karakter peserta didik, serta lingkungan tempat proses pembelajaran berlangsung.

Konsep pembelajaran digital yang kontekstual tersebut dinilai penting dalam konteks pendidikan di Tanah Papua. Pembelajaran tidak hanya diarahkan pada pemanfaatan perangkat dan aplikasi digital, tetapi juga harus tetap dekat dengan kehidupan peserta didik dan lingkungan sosial budaya mereka. Dengan pendekatan tersebut, teknologi dapat menjadi jembatan yang memperkuat proses pembelajaran tanpa menghilangkan konteks lokal.

Perjalanan Chairul untuk mencapai predikat lulusan terbaik tentu tidak berlangsung tanpa tantangan. Ia mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar selama menempuh pendidikan Pascasarjana adalah menjaga konsistensi ketika harus menghadapi berbagai tuntutan secara bersamaan.

Menjadi mahasiswa Pascasarjana, menurutnya, bukan hanya tentang mengikuti perkuliahan. Mahasiswa juga dituntut untuk menyelesaikan berbagai tugas, mengembangkan gagasan, melakukan penelitian, dan menyelesaikan tesis. Semua tanggung jawab tersebut membutuhkan ketekunan serta kemampuan untuk menjaga ritme belajar dalam jangka waktu yang panjang.

Tantangan semakin terasa ketika ia mengembangkan media pembelajaran berbasis Moodle untuk penelitian tesisnya. Ia tidak hanya dituntut memahami aspek teknologi, tetapi juga harus memastikan bahwa media yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran Fiqih, kebutuhan mahasiswa, serta dapat digunakan secara efektif dalam proses pendidikan.

Namun, justru dari proses tersebut, pola pikirnya mengalami perkembangan. Ia semakin memahami bahwa teknologi pendidikan bukan sekadar alat untuk membuat pembelajaran lebih modern, melainkan harus mampu memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi dalam proses pembelajaran.

“Bagi saya, itulah salah satu makna penting dari pendidikan Pascasarjana: bukan hanya mendapatkan gelar, tetapi membangun cara berpikir yang lebih kritis, kreatif, dan solutif,” tuturnya.

Dalam perjalanan tersebut, keluarga, dosen, dan rekan kerja menjadi bagian penting yang memberikan dukungan dan kepercayaan kepada Chairul. Dukungan dari orang-orang terdekat menjadi energi tersendiri ketika ia menghadapi berbagai kesulitan selama proses pendidikan.

Ia juga mengingat sejumlah prinsip yang disampaikan oleh rekan kerjanya dan terus menjadi pegangan selama menjalani pendidikan. Salah satunya adalah keyakinan bahwa segala sesuatu dapat dilakukan selama seseorang mau belajar. Prinsip lainnya mengingatkan bahwa belajar memang tidak menjamin seseorang pasti sukses, tetapi belajar dapat memperbesar peluang untuk mencapai kesuksesan.

Prinsip tersebut menjadi pengingat bagi Chairul untuk terus terbuka terhadap proses belajar. Menurutnya, selama menempuh pendidikan selalu ada hal yang perlu dipelajari, diperbaiki, dan disempurnakan. Karena itu, ia berusaha menikmati setiap proses yang dilalui dan menjadikannya sebagai bagian dari perjalanan untuk berkembang.

Lebih jauh, Chairul melihat bahwa lulusan Pascasarjana IAIN Sorong memiliki tanggung jawab yang besar dalam membangun generasi muda Muslim di Papua Barat Daya. Wilayah ini memiliki masyarakat yang sangat beragam, baik dari sisi agama, suku, budaya, maupun latar belakang sosial.

Dalam kondisi masyarakat yang multikultural tersebut, pendidikan Islam menurutnya tidak cukup hanya membentuk generasi yang kuat dalam aspek keimanan dan akhlak. Pendidikan juga perlu menanamkan sikap toleran, terbuka, serta kemampuan untuk menghargai perbedaan.

“Pendidikan Islam yang diberikan kepada generasi muda harus mampu membentuk pribadi yang kuat dalam keimanan dan akhlak, tetapi juga memiliki sikap toleran, terbuka, dan mampu menghargai perbedaan,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap lulusan Pascasarjana IAIN Sorong dapat mengambil peran sebagai pendidik, akademisi, maupun agen perubahan yang mampu mengintegrasikan ilmu keislaman dengan perkembangan teknologi, budaya lokal, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Bagi Chairul, pendidikan tinggi pada akhirnya bukan hanya tentang memperoleh gelar akademik. Lebih dari itu, pendidikan merupakan proses untuk membentuk cara berpikir, memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan menyelesaikan persoalan, serta mempersiapkan seseorang agar mampu memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.

Predikat lulusan terbaik yang diraihnya menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Capaian itu sekaligus menjadi awal bagi langkah berikutnya untuk menerapkan ilmu dan gagasan yang telah dikembangkan selama menempuh pendidikan Pascasarjana IAIN Sorong.

Melalui pengalaman akademik dan gagasan pembelajaran berbasis teknologi yang dikembangkannya, Chairul Anwar Saputra menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak berhenti pada pencapaian nilai dan gelar. Ada tanggung jawab untuk membawa ilmu tersebut menjadi karya dan manfaat, terutama bagi perkembangan pendidikan dan masyarakat di Papua Barat Daya.

Penulis : kar/Humas
Editor  : wi/Humas

 

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *