Lalu Nasrulloh – AL-QUR’AN DORONG MODERASI BERAGAMA BERBASIS KEMANUSIAAN DAN PENGHORMATAN TERHADAP PERBEDAAN

Humas IAIN Sorong – Moderasi beragama perlu dibangun melalui perubahan cara pandang dari nilai kesukuan menuju nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Hal tersebut disampaikan Dr. Lalu Nasrulloh, M.Pd., dalam kegiatan Pembinaan Moderasi Beragama bagi Tenaga Kependidikan, Dosen, dan Mahasiswa IAIN Sorong, Rabu (7/10/2026) di Aula Utama IAIN Sorong.

Kegiatan yang mengusung tema “Sinergi Adat dan Agama: Penguatan Ekosistem Moderasi Beragama di Tanah Papua” tersebut menjadi ruang penguatan pemahaman keberagamaan dalam konteks masyarakat Papua.

Dalam pemaparannya, Lalu menjelaskan bahwa nilai kesukuan yang menempatkan nasab dan kabilah sebagai ukuran kemuliaan dapat melahirkan primordialisme dan fanatisme. Islam kemudian mengubah orientasi tersebut dengan menegaskan kesetaraan manusia dan menjadikan ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan. Persaudaraan pun tidak lagi dibatasi oleh suku, tetapi diperluas berdasarkan nilai kemanusiaan dan ketuhanan.

Lalu juga mengaitkan gagasan tersebut dengan kehidupan Rasulullah di Madinah. Menurut dia, konsep umat menunjukkan perubahan pola hubungan sosial dari ikatan kesukuan menuju ikatan yang dibangun atas nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Keragaman suku, dalam kerangka tersebut, tidak menjadi sumber perpecahan, tetapi dapat menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan bangsa dan negara sebagai rumah bersama.

Ia selanjutnya menempatkan Al-Qur’an sebagai pedoman interaksi sosial, khususnya melalui QS Al-Hujurat ayat 13 yang mengajarkan manusia untuk saling mengenal (li ta’arafu) di tengah keberagaman bangsa dan suku. Konsep tersebut, menurut Lalu, tidak berhenti pada mengenal secara sosial, tetapi mencakup pengakuan, rekognisi, penghormatan, dan penghargaan terhadap orang lain, baik yang memiliki kesamaan maupun perbedaan agama dan suku.

Lalu menegaskan pentingnya adab sebagai inti pendidikan dalam merawat perbedaan. Perbedaan seharusnya menjadi ruang untuk saling mengenal, bukan alasan untuk saling merendahkan. Dalam konteks Papua yang memiliki keragaman suku dan agama, prinsip tersebut dapat menjadi landasan untuk membangun interaksi sosial yang lebih inklusif, saling menghormati, dan berorientasi pada kehidupan bersama.

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *