
Humas IAIN Sorong – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong memperkuat komitmen membangun ekosistem moderasi beragama yang berakar pada nilai adat dan budaya Papua melalui kegiatan Pembinaan Moderasi Beragama bagi Tenaga Kependidikan, Dosen, dan Mahasiswa IAIN Sorong Tahun 2026, Rabu (7/10/2026).
Kegiatan yang mengangkat tema “Sinergi Adat dan Agama: Penguatan Ekosistem Moderasi Beragama di Tanah Papua” tersebut menjadi ruang dialog untuk memperkuat pemahaman moderasi beragama di lingkungan sivitas akademika.
Rektor IAIN Sorong Dr. Suparto Iribaram, S.Sos., M.A., memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan. Penguatan moderasi beragama dinilai penting dalam konteks Papua yang memiliki keragaman agama, adat, budaya, dan kehidupan sosial. Karena itu, sinergi antara nilai agama dan kearifan lokal menjadi salah satu pendekatan penting dalam membangun kehidupan bersama yang harmonis.
Kegiatan dilanjutkan dengan seminar moderasi beragama yang menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., Rektor UIN Mataram, yang hadir secara daring melalui Zoom; Dr. Habel S. J. Rieuwpassa, M.Pd.K., Ketua STAKN Mesias Sorong; Dr. Anwar Darwis, S.E., M.Pd.; serta Dr. Lalu Nasrulloh, M.Pd. Diskusi dipandu Nirwan, S.Sos., M.Si. sebagai moderator.

Forum tersebut mempertemukan perspektif lintas keagamaan dan kelembagaan untuk membahas moderasi beragama dalam konteks kehidupan masyarakat Papua. Kehadiran tenaga kependidikan, dosen, dan mahasiswa juga menunjukkan bahwa moderasi beragama tidak hanya ditempatkan sebagai wacana, tetapi diarahkan menjadi bagian dari budaya akademik dan kehidupan bersama di lingkungan perguruan tinggi.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan dialog interaktif yang memberikan ruang kepada peserta untuk memperdalam pembahasan dan merespons berbagai persoalan terkait moderasi beragama. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan menyanyikan lagu Tanah Papua, penyerahan cenderamata kepada narasumber, serta sesi foto bersama.
Melalui kegiatan ini, IAIN Sorong menegaskan pentingnya membangun moderasi beragama yang kontekstual dengan realitas Papua. Sinergi adat, agama, dan pendidikan diharapkan tidak hanya memperkuat toleransi di lingkungan kampus, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan masyarakat yang damai, inklusif, dan mampu menghargai keberagaman.
Penulis :Nir / Humas
Editor : WI/ Humas