Humas IAIN Sorong – Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, Suparto Iribaram, hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Training of Trainers (TOT) Daiyah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi Papua Barat Daya. Kegiatan ini diikuti oleh para dai dan daiyah Fatayat NU dari berbagai kabupaten/kota se-Papua Barat Daya. bertempat di Ruang Mega, Hotel ACC Aimas, Jum’at, 02/01/2026,

Kegiatan TOT Daiyah ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan wawasan para daiyah dalam menjalankan peran dakwah yang inklusif, moderat, dan berwawasan kebangsaan di tengah masyarakat yang majemuk. Tema yang diangkat dinilai sangat relevan dengan kondisi sosial Indonesia saat ini, khususnya di wilayah Papua Barat Daya yang memiliki keberagaman suku, budaya, dan agama.

Dalam penyampaian materinya yang bertajuk Moderasi Beragama dan Kebangsaan, Suparto Iribaram menjelaskan bahwa keberagaman merupakan kekayaan besar bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dirawat bersama. Namun, di balik kekayaan tersebut juga terdapat tantangan yang tidak ringan, seperti potensi konflik, intoleransi, serta kesalahpahaman antarumat beragama jika tidak dikelola dengan baik.

Lebih lanjut, Suparto memaparkan empat pilar moderasi beragama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan sikap akomodatif terhadap budaya lokal. Keempat pilar ini, menurutnya, harus menjadi landasan utama dalam setiap aktivitas dakwah dan kehidupan sosial masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya komitmen kebangsaan sebagai fondasi bersama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Beragama dan berbangsa bukanlah dua hal yang bertentangan, justru keduanya saling menguatkan. Komitmen terhadap Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah bagian dari implementasi ajaran agama itu sendiri,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Suparto Iribaram turut menyoroti peran strategis tokoh agama dan institusi keagamaan, termasuk Fatayat NU, dalam mengarusutamakan moderasi beragama di tengah masyarakat. Menurutnya, dai dan daiyah memiliki posisi penting sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan dakwah yang sejuk, mencerahkan, serta membangun harmoni sosial.

“Moderasi beragama bukan hanya persoalan sikap individu, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa. Kita semua memiliki kewajiban untuk menjaga, merawat, dan bertanggung jawab terhadap keberlangsungan persatuan Negara Republik Indonesia,” tegasnya.

Di akhir pemaparannya, Suparto Iribaram menyampaikan pesan kepada seluruh peserta agar terus menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai toleransi, komitmen kebangsaan, serta sikap akomodatif dalam setiap ruang kehidupan, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam aktivitas dakwah.

“Mari kita bersama-sama mewujudkan Indonesia yang rukun, maju, dan beradab. Dengan persatuan dan moderasi beragama yang kuat, Indonesia dapat menjadi mercusuar perdamaian bagi dunia,” pungkasnya.

Kegiatan TOT Daiyah ini diharapkan mampu melahirkan daiyah-da’iyah yang berwawasan moderat, memiliki kepedulian kebangsaan yang tinggi, serta mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga kerukunan umat beragama di Papua Barat Daya. (wi/humas)