
HUMAS IAIN Sorong – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong menggelar International Conference on Contemporary Issues in Social Religious Studies yang menghadirkan para akademisi dan peneliti dari berbagai negara. Peserta konferensi berasal dari Indonesia, Papua Nugini, Brunei Darussalam, Malaysia, Nigeria, Madagaskar, Sudan hingga Swedia. Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran gagasan mengenai berbagai persoalan sosial-keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat global, khususnya di era digital.
Rangkaian konferensi diawali dengan sesi keynote speech dan presentasi oral pada Minggu, 8 Maret 2026. Sementara itu, upacara pembukaan resmi dilaksanakan pada Senin, 9 Maret 2026, di Aula IAIN Sorong. Kegiatan ini mempertemukan para pakar dari berbagai disiplin ilmu untuk mendiskusikan dinamika sosial, agama, dan pendidikan dalam konteks masyarakat modern yang semakin terhubung secara digital.
Rektor IAIN Sorong, Associate Professor Suparto Iribaram, dalam sambutannya menegaskan bahwa pembahasan mengenai isu sosial-keagamaan saat ini semakin penting. Menurutnya, masyarakat menghadapi berbagai tantangan baru yang muncul pada pertemuan antara tradisi dan modernitas, terutama akibat pesatnya perkembangan teknologi digital, meningkatnya interaksi lintas budaya, serta berbagai dilema etika dalam masyarakat yang semakin plural.
Pandangan tersebut juga disampaikan oleh Rusdi Rasyid dari IAIN Sorong yang memaparkan hasil penelitiannya mengenai persepsi mahasiswa terhadap moderasi beragama. Ia menjelaskan bahwa lingkungan kampus yang multikultural serta keteladanan dosen berperan penting dalam membentuk sikap toleransi dan keterbukaan di kalangan mahasiswa. Nilai-nilai tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Dalam sesi lainnya, Sudirman mengulas tentang tipologi implementasi hukum Islam pada generasi milenial dan generasi Z. Ia mengelompokkan praktik tersebut ke dalam empat basis utama, yakni identitas, budaya, syariah, dan maqashid. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemahaman keagamaan generasi muda berkembang dalam kerangka yang beragam, dipengaruhi oleh dinamika sosial serta perubahan budaya yang terjadi di masyarakat.


Konferensi ini juga menyoroti peran strategis pendidikan tinggi dalam membangun karakter kebangsaan. Tabrani Z dari UIN Ar-Raniry Indonesia menekankan bahwa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memiliki tanggung jawab penting dalam membentuk warga negara yang tidak hanya memiliki komitmen keagamaan, tetapi juga kesadaran sosial dan kebangsaan. Ia menawarkan konsep Model Integratif Strukturalis (INSTAL) sebagai pendekatan untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam sistem pendidikan tinggi secara menyeluruh.
Perspektif regional turut memperkaya diskusi konferensi. Nurhayati Abdul Karim dari Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), Brunei Darussalam, menjelaskan bagaimana momentum Ramadan dan Syawal dimanfaatkan sebagai ruang sosial untuk memperkuat falsafah negara Melayu Islam Beraja (MIB). Sementara itu, Prof. Dr. Hadnan Taufiq dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Sarawak, Malaysia, memaparkan dinamika penetapan fatwa di Sarawak yang berkaitan dengan perkembangan bioteknologi pangan serta tradisi lokal masyarakat.
Salah satu topik yang menarik perhatian peserta adalah paparan Indriani mengenai transformasi Pendidikan Agama Islam yang memanfaatkan kearifan lokal Papua. Ia mengusulkan integrasi nilai-nilai budaya seperti Sasi dan Egek sebagai dasar pendidikan etika lingkungan. Selain itu, filosofi Satu Tungku Tiga Batu yang berkembang di Fakfak juga diperkenalkan sebagai contoh nyata praktik kerukunan antarumat beragama yang dapat menjadi inspirasi bagi pendidikan multikultural.
Konferensi ini juga mengangkat diskusi mengenai dinamika identitas keagamaan di Indonesia. Surahman Amin menyoroti pentingnya pendekatan yang menekankan nilai akhlak dan etika dalam memahami identitas keagamaan, sehingga dialog akademik dapat berlangsung secara konstruktif dan saling menghargai.
Melalui penyelenggaraan konferensi internasional ini, IAIN Sorong berharap dapat memperkuat kolaborasi akademik lintas negara sekaligus mendorong lahirnya gagasan-gagasan baru dalam kajian sosial-keagamaan. Selain itu, forum ilmiah ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran etis pada generasi muda serta berkontribusi dalam membangun masyarakat yang berpengetahuan, adil, dan damai di tengah perubahan zaman.
Penulis : zul/humas
Dokumentasi : zul/humas
Editor : wi/humas