Humas IAIN Sorong – Sebuah peringatan penting terkait pelestarian bahasa daerah mengemuka dalam acara Diseminasi Pemilihan Duta Bahasa Papua 2026 yang berlangsung pada 11 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi momentum refleksi bersama atas tantangan yang dihadapi bahasa-bahasa daerah di tengah derasnya arus globalisasi.
Dalam sambutannya, Suparto Iribaram sebagai Rektor menyampaikan kekhawatiran mendalam agar bahasa Papua tidak sampai hilang ditelan zaman. Ia menegaskan pentingnya menjaga identitas linguistik lokal sebagai bagian dari jati diri masyarakat Papua di tengah pengaruh budaya luar yang semakin kuat.
Rektor secara khusus menyoroti fenomena di mana generasi muda saat ini cenderung mengikuti gaya bicara ibu kota atau Jakarta. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membuat generasi muda perlahan melupakan dialek serta kekayaan bahasa daerahnya sendiri. “Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi cerminan identitas dan budaya. Jika bahasa hilang, maka sebagian identitas kita pun ikut hilang,” tegasnya.
Ia mendorong agar bahasa Papua dapat diimplementasikan dan digunakan secara aktif dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa daerah, lanjutnya, tidak hanya penting dalam lingkup keluarga, tetapi juga di ruang-ruang publik sebagai bentuk nyata pelestarian warisan budaya.
Acara diseminasi ini turut dihadiri sejumlah tokoh yang memiliki peran strategis dalam pengembangan dan pelestarian bahasa. Di antaranya Yulius Pagappong selaku Koordinator UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia
), Dennys Ezananda Enriko, sebagai penerjemah profesional, serta Franklin Herbert Mambrasar, yang bertugas sebagai Pengolah Data dan Informasi. Kehadiran mereka mencerminkan komitmen lintas sektor dalam mendukung isu kebahasaan di Papua.
Inspirasi juga datang dari para Duta Bahasa Papua tahun-tahun sebelumnya. Muhammad Ali Fatkur, Duta Bahasa Papua 2025, dan Insya Naomi Wakum, Duta Bahasa Papua 2023, berbagi pengalaman serta pandangan mereka mengenai peran generasi muda dalam menjaga eksistensi bahasa daerah. Mereka mengajak kaum muda untuk bangga menggunakan bahasa ibu dan menjadi agen perubahan dalam melestarikan kekayaan linguistik Papua.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat—khususnya generasi muda—akan pentingnya pelestarian bahasa Papua semakin meningkat. Pesan Rektor menjadi pengingat kolektif bahwa menjaga bahasa berarti menjaga identitas dan budaya. Upaya tersebut merupakan tanggung jawab bersama agar warisan leluhur tetap lestari di tengah dinamika perkembangan zaman.
Penulis : nir/humas
Dokumentasi : Zul/humas
Editor :wi/humas