FAKULTAS SYARIAH DAN DAKWAH IAIN SORONG GELAR SEMINAR CYBERBULLYING DAN UJARAN KEBENCIAN, DORONG TERCIPTANYA RUANG DIGITAL YANG AMAN DAN BERADAB

HUMAS IAIN SORONG – Fakultas Syariah dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong menggelar seminar bertajuk “Cyberbullying dan Ujaran Kebencian: Mengubah Dunia Maya Menjadi Ruang yang Aman, Positif, dan Beradab” pada Rabu, 14 Oktober 2026, bertempat di Gedung Aula IAIN Sorong. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menggunakan media sosial secara bijak, bertanggung jawab, dan beretika di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Seminar ini menghadirkan Nursiah Yusdiranti Barus, S.Psi., Psikolog, CH, C.Ht., sebagai narasumber. Kegiatan tersebut diikuti dengan melibatkan mahasiswa, guru Bimbingan dan Konseling (BK), serta tokoh masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran bersama dalam mencegah perundungan siber (cyberbullying) dan ujaran kebencian di ruang digital.

Dekan Fakultas Syariah dan Dakwah IAIN Sorong, Surahman Amin, dalam sambutan sekaligus pembukaan kegiatan menyampaikan bahwa kemajuan teknologi dan media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kemudahan akses tersebut memberikan banyak manfaat, tetapi juga menuntut setiap pengguna untuk lebih berhati-hati dalam berinteraksi di dunia maya.

Menurutnya, teknologi dapat membawa kebahagiaan sekaligus menimbulkan penderitaan apabila digunakan dengan niat dan cara yang tidak tepat. Melalui media sosial, informasi dapat disebarkan dengan cepat, tetapi teknologi yang sama juga dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi informasi, menyerang orang lain, dan menyebarkan kebencian.

Oleh karena itu, Surahman berharap seminar ini dapat menjadi salah satu langkah nyata dalam meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus menekan kasus perundungan siber dan ujaran kebencian. Ia menekankan pentingnya membangun kebiasaan bermedia sosial secara bijak agar kemajuan teknologi dapat memberikan manfaat positif bagi kehidupan bersama.

Memasuki sesi inti, seminar dipandu oleh Rosdiana selaku moderator yang mengarahkan jalannya diskusi. Dalam pemaparannya, narasumber mengajak peserta untuk terlebih dahulu memahami pengertian serta perbedaan antara cyberbullying dan ujaran kebencian, termasuk dampak yang dapat ditimbulkan oleh keduanya.

Ia menjelaskan bahwa setiap unggahan di media sosial, baik berupa tulisan, foto, maupun video, dapat menimbulkan dampak yang panjang bagi orang lain. Konten yang dibuat dengan tujuan menyakiti, mempermalukan, atau merendahkan seseorang berpotensi menimbulkan persoalan serius, terutama ketika disebarluaskan dan terus beredar di ruang digital.

Narasumber juga mengingatkan peserta agar tidak menganggap remeh tindakan yang dilakukan melalui media sosial. Pemahaman terhadap bentuk, tujuan, dan dampak dari setiap tindakan digital menjadi langkah penting untuk mencegah perilaku yang merugikan orang lain. Dengan demikian, setiap individu diharapkan mampu mengendalikan diri, mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu, serta membangun komunikasi yang lebih sehat dan saling menghargai.

Kegiatan seminar ini juga dilengkapi dengan sesi interaktif yang memberikan kesempatan kepada guru-guru Bimbingan dan Konseling (BK), mahasiswa, serta peserta lainnya untuk menyampaikan pertanyaan, berbagi pengalaman, dan mengungkapkan berbagai keluh kesah maupun permasalahan yang mereka hadapi terkait perundungan siber dan ujaran kebencian. Melalui sesi ini, peserta dapat mendiskusikan persoalan yang terjadi di lingkungan pendidikan maupun masyarakat untuk memperoleh pemahaman, masukan, dan alternatif solusi dari narasumber. Diskusi tersebut menjadi ruang komunikasi yang terbuka dan konstruktif, sehingga berbagai persoalan tidak hanya dibicarakan, tetapi juga diupayakan jalan keluarnya melalui pemahaman bersama dan pendekatan yang tepat.

Sementara itu, Nurfitriani, dosen IAIN Sorong sekaligus ketua panitia kegiatan, menjelaskan bahwa seminar ini diselenggarakan untuk meningkatkan literasi digital, membangun kesadaran kolektif, serta mendorong tanggung jawab bersama dalam menciptakan ruang digital yang aman, inklusif, dan beretika.

Menurutnya, cyberbullying dan ujaran kebencian bukan sekadar persoalan komunikasi di media sosial, melainkan fenomena sosial yang dapat memengaruhi kondisi psikologis individu, hubungan antarmanusia, hingga keharmonisan kehidupan bermasyarakat. Oleh sebab itu, upaya pencegahannya memerlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari lingkungan pendidikan, keluarga, hingga masyarakat secara luas.

Nurfitriani menegaskan bahwa pemilihan mahasiswa, guru BK, dan tokoh masyarakat sebagai sasaran kegiatan didasarkan pada peran strategis masing-masing dalam membangun budaya digital yang sehat. Guru BK memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan kepada peserta didik, khususnya dalam upaya pencegahan dan penanganan perundungan siber di lingkungan pendidikan.

Di sisi lain, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang memanfaatkan teknologi secara kritis, bijak, dan bertanggung jawab. Sementara itu, tokoh masyarakat berperan dalam menumbuhkan kesadaran kolektif, memperkuat nilai-nilai sosial, serta membangun budaya saling menghormati, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika berinteraksi di ruang digital.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa menciptakan ruang digital yang aman bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau penyedia platform media sosial, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Karena itu, seminar ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat dalam mencegah perundungan siber serta ujaran kebencian.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Syariah dan Dakwah IAIN Sorong berharap pemahaman yang diperoleh peserta tidak berhenti pada penyampaian materi dan diskusi, tetapi juga diwujudkan dalam perubahan perilaku ketika berkomunikasi dan berinteraksi di dunia maya. Media sosial hendaknya menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan, menyampaikan gagasan, menghargai perbedaan, dan memperkuat solidaritas sosial, bukan tempat untuk merendahkan, menyerang, atau mendiskriminasi orang lain.

Seminar ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila diiringi dengan kesadaran, empati, dan tanggung jawab. Dengan membangun kebiasaan bermedia sosial yang positif serta saling menghargai, seluruh elemen masyarakat dapat berkontribusi menciptakan ruang digital yang lebih aman, nyaman, dan beradab bagi semua.

 

Penulis : kar/Humas
Editor  : wi/Humas

 

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *