
HUMAS IAIN Sorong – Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sorong kembali mengukir prestasi membanggakan pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Ke-II Provinsi Papua Barat Daya. Dalam kompetisi bergengsi tersebut, mahasiswa IAIN Sorong berhasil meraih sejumlah gelar juara di berbagai cabang lomba, membuktikan kualitas akademik, keilmuan Al-Qur’an, serta kemampuan mereka dalam bersaing di tingkat provinsi.
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah yang berhasil meraih prestasi tersebut di antaranya Syarifa Pitambara dari Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) sebagai Juara I Hifzhil Qur’an 5 Juz dan Tilawah Putri, Riska Ramadhani Wali dari Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) sebagai Juara I Makalah Al-Qur’an Putri, Fikri Hakim dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang meraih Juara III Makalah Al-Qur’an Putra, serta Muhammad Ridwan dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berhasil memperoleh Juara II Hifzhil Qur’an 5 Juz dan Tilawah Putra.
Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Fakultas Tarbiyah sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa IAIN Sorong mampu bersaing dan tampil optimal pada ajang keagamaan tingkat provinsi. Keberhasilan ini juga menjadi bukti bahwa pembinaan akademik dan pengembangan potensi mahasiswa terus menghasilkan capaian yang membanggakan.
Tim Humas IAIN Sorong kemudian berkesempatan mewawancarai salah satu peraih juara, Riska Ramadhani Wali, mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) yang berhasil meraih Juara I Makalah Al-Qur’an Putri. Dengan penuh rasa syukur, Riska mengaku sangat bahagia atas pencapaian tersebut setelah melalui proses persiapan yang panjang dan penuh tantangan.

Menurut Riska, perjalanan menuju gelar juara tidak diperoleh secara instan. Ia harus melewati beberapa tahapan seleksi, mulai dari tingkat distrik yang diikuti empat peserta, kemudian melaju ke tingkat kabupaten dengan bersaing bersama dua peserta lainnya, hingga akhirnya berhasil meraih juara dan mendapatkan kesempatan untuk mewakili daerah pada ajang tingkat provinsi.
“Alhamdulillah saya sangat bersyukur. Prosesnya tidak mudah karena harus melewati beberapa tahapan seleksi sebelum akhirnya bisa sampai di titik ini,” ungkapnya.
Di balik prestasi tersebut, Riska mengaku tantangan terbesar yang dihadapinya adalah membagi waktu. Saat mempersiapkan lomba, ia harus tetap menjalani aktivitas perkuliahan, mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS), sekaligus menyelesaikan proses bimbingan proposal. Padatnya agenda akademik membuat dirinya harus benar-benar disiplin dalam mengatur waktu agar seluruh tanggung jawab dapat diselesaikan dengan baik.
“Yang paling berat sebenarnya membagi waktu. Saat itu saya harus kuliah, mengikuti UAS, dan juga sedang bimbingan proposal. Di sisi lain saya harus terus mempersiapkan materi lomba agar bisa tampil maksimal,” tuturnya.
Pada cabang Makalah Al-Qur’an, Riska mengangkat tema pelestarian lingkungan dan kerukunan antar umat beragama. Ia menjelaskan bahwa selain menyusun karya tulis yang baik, penguasaan materi juga menjadi tantangan tersendiri karena peserta diwajibkan mampu mempertanggungjawabkan isi makalah di hadapan dewan juri melalui sesi presentasi. Momen tersebut menjadi pengalaman yang paling menegangkan baginya.
“Saya sangat gugup saat harus mempresentasikan makalah di depan para juri yang sangat kompeten. Tetapi saya mencoba tetap tenang dan fokus pada materi yang sudah dipersiapkan,” katanya.
Ketertarikannya mengikuti cabang Makalah Al-Qur’an juga berawal dari motivasi yang sering diberikan para dosen selama perkuliahan. Menurut Riska, para dosen selalu mengingatkan bahwa tulisan merupakan karya yang akan terus hidup dan memberikan manfaat bagi banyak orang.
“Saya sering mendengar dosen mengatakan bahwa tulisan tidak akan pernah usang karena akan terus menjadi referensi bagi orang lain. Saya juga menyadari kemampuan menghafal saya tidak sebaik teman-teman yang lain, tetapi saya merasa memiliki kemampuan di bidang menulis. Dari situ saya memberanikan diri memilih cabang Makalah Al-Qur’an,” jelasnya.
Riska juga mengungkapkan bahwa keberhasilannya tidak lepas dari dukungan banyak pihak. Baginya, doa dan motivasi dari kedua orang tua menjadi kekuatan terbesar yang membuatnya berani melangkah dan tampil dalam perlombaan. Selain itu, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Rusyaid selaku dosen pembimbing yang selalu meluangkan waktu untuk memberikan arahan di tengah kesibukannya sebagai dosen IAIN Sorong.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Dekan Fakultas Tarbiyah, Indria Nur, Koordinator Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Hartinah, serta teman-teman yang senantiasa memberikan semangat selama proses persiapan hingga perlombaan berlangsung. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi penyemangat untuk terus memberikan hasil terbaik.
Ke depan, Riska bertekad untuk terus mendalami dunia penulisan, khususnya karya tulis ilmiah. Ia ingin memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk terus belajar, meningkatkan kemampuan, dan menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat maupun dunia akademik.
Di akhir wawancara, Riska mengajak seluruh mahasiswa IAIN Sorong agar tidak takut mencoba hal-hal baru dan berani mengikuti berbagai kompetisi.
“Jangan takut mencoba. Mulailah dari diri sendiri untuk terus maju. Jangan biarkan rasa takut menjadi penghalang. Berani memulai, berani tampil, karena kita tidak akan pernah tahu sejauh mana kemampuan kita jika tidak pernah mencoba,” pesannya.
Prestasi yang diraih para mahasiswa Fakultas Tarbiyah ini menjadi bukti bahwa kerja keras, keberanian, dan konsistensi dalam belajar akan selalu membuka jalan menuju kesuksesan. Diharapkan capaian tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa IAIN Sorong lainnya untuk terus berkarya, berprestasi, dan mengharumkan nama almamater di berbagai ajang kompetisi, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Penulis : kar/Humas
Editor : wi/Humas