PSGA IAIN SORONG AJAK MAHASISWA BARU BANGUN KAMPUS YANG AMAN, RAMAH, DAN SALING MENGHARGAI

HUMAS IAIN Sorong — Memasuki dunia perkuliahan bukan hanya tentang mengenal ruang kelas, dosen, tugas, dan berbagai aktivitas akademik. Lebih dari itu, mahasiswa juga sedang memulai perjalanan baru untuk mengenal lingkungan, membangun pertemanan, belajar menghargai perbedaan, serta tumbuh bersama dalam suasana kampus yang aman dan nyaman.

Pesan tersebut hadir dalam rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Sorong Tahun 2026 melalui sesi yang dibawakan oleh Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Sorong. Koordinator PSGA IAIN Sorong, Rosdiana, hadir sebagai pembicara dengan mengangkat tema “Menjaga Martabat: Pencegahan Kekerasan Seksual, Bullying, dan Etika Digital.”

Dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, materi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk memahami bahwa kampus bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga ruang bersama yang harus dijaga dengan rasa saling menghormati, kepedulian, dan empati.

Sejak awal perkuliahan, mahasiswa diajak memahami bahwa setiap orang memiliki hak untuk merasa aman, dihargai, dan diterima. Karena itu, menciptakan lingkungan kampus yang inklusif dan bermartabat bukan hanya menjadi tugas pimpinan atau unit tertentu, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh warga kampus.

Kehidupan mahasiswa hari ini tidak dapat dipisahkan dari dunia digital. Media sosial, aplikasi percakapan, dan berbagai platform digital telah menjadi bagian dari cara mahasiswa belajar, berkomunikasi, dan membangun relasi.

Dalam sesi tersebut, mahasiswa diajak melihat ruang digital bukan hanya sebagai tempat berbagi informasi dan berekspresi, tetapi juga sebagai ruang yang membutuhkan tanggung jawab. Teknologi dapat memperluas kesempatan untuk berinteraksi dan berkolaborasi, tetapi tanpa etika yang baik, ruang digital juga dapat menjadi tempat munculnya cyberbullying, ujaran kebencian, hingga penyebaran konten negatif.

Mahasiswa kemudian dikenalkan dengan perbedaan antara etiket dan etika dalam berinternet. Etiket berkaitan dengan kesopanan dalam berkomunikasi, sementara etika menyangkut prinsip untuk memahami mana tindakan yang benar dan tidak benar. Tidak menyebarkan hoaks, menghormati privasi orang lain, tidak melakukan cyberstalking, serta tidak memanipulasi informasi menjadi bagian dari sikap bertanggung jawab sebagai pengguna ruang digital.

Mahasiswa juga diajak lebih waspada terhadap berbagai bentuk kejahatan siber, seperti phishing, cyberstalking, carding, dan spoofing. Dalam kehidupan digital yang semakin dekat dengan keseharian mahasiswa, menjaga keamanan data dan privasi menjadi hal yang tidak boleh diabaikan. Kebiasaan sederhana seperti mengaktifkan autentikasi dua faktor, menghindari penggunaan Wi-Fi publik untuk transaksi sensitif, serta tidak sembarangan membagikan lokasi dan informasi pribadi di media sosial menjadi bagian dari upaya melindungi diri.

Namun, menjaga keamanan tidak berhenti pada melindungi diri sendiri. Mahasiswa juga diajak untuk menjadi teman yang peduli. Ketika melihat seseorang mengalami perundungan atau kekerasan, sikap acuh bukanlah pilihan. Kepedulian, keberanian untuk bersuara, dan kesediaan memberikan dukungan dapat menjadi langkah awal untuk membantu seseorang keluar dari situasi yang sulit.

Dalam sesi tersebut, PSGA juga memberikan pemahaman mengenai kekerasan seksual dan perundungan. Kekerasan seksual dapat berupa tindakan yang merendahkan, menyerang, atau mengeksploitasi seseorang berdasarkan relasi kuasa yang tidak setara. Sementara itu, perundungan dapat terjadi secara fisik, psikis, maupun elektronik dan berpotensi menimbulkan trauma serta dampak berkepanjangan bagi korban, termasuk terganggunya hak untuk memperoleh pendidikan.

Mahasiswa juga diperkenalkan dengan ketentuan Peraturan Menteri Agama Nomor 73 Tahun 2022 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Satuan Pendidikan pada Kementerian Agama serta Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 1143 Tahun 2024 tentang Petunjuk Teknis Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Ketentuan tersebut berlaku bagi seluruh sivitas akademika, termasuk mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.

Yang tidak kalah penting, mahasiswa baru diperkenalkan dengan keberadaan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) IAIN Sorong berdasarkan SK Rektor IAIN Sorong Nomor 358 Tahun 2025. Satgas memiliki fungsi dalam melakukan pendampingan terhadap korban, menjalankan upaya pencegahan, serta menindaklanjuti laporan yang diterima. Dalam prosesnya, perspektif korban menjadi perhatian penting dengan mengutamakan pemulihan dan pemenuhan hak korban untuk tetap memperoleh pendidikan.

Pesan yang ingin ditanamkan kepada mahasiswa baru sederhana, tetapi sangat berarti: tidak perlu takut untuk mencari bantuan ketika menghadapi persoalan. Kampus harus menjadi tempat mahasiswa merasa aman untuk belajar, bertumbuh, bertanya, bahkan ketika sedang menghadapi masalah. Karena itu, keberadaan PSGA dan Satgas PPKS diharapkan dapat menjadi bagian dari sistem pendampingan yang memastikan mahasiswa tidak merasa sendirian ketika membutuhkan dukungan.

Di penghujung sesi, mahasiswa diajak membangun komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman dan saling menghargai. Hal itu dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menjaga ucapan, menghargai teman, tidak ikut menyebarkan perundungan, menjaga privasi, serta berani menyampaikan ketika melihat tindakan yang tidak semestinya.

PSGA mengajak mahasiswa untuk menjadi netizen yang cerdas, pribadi yang peduli, dan teman yang berani bersuara. Sebab, lingkungan yang aman tidak tercipta hanya karena adanya aturan, tetapi juga karena setiap orang memilih untuk saling menjaga.

Melalui kehadiran PSGA dalam PBAK 2026, mahasiswa baru IAIN Sorong diharapkan tidak hanya mengenal kehidupan akademik, tetapi juga memahami nilai-nilai yang akan menemani perjalanan mereka selama menjadi bagian dari keluarga besar IAIN Sorong. Sebab, kampus yang baik bukan hanya tempat mahasiswa mengejar prestasi, tetapi juga tempat mereka merasa diterima, dihargai, didengar, dan tumbuh bersama.

Penulis : kar/Humas

Editor  : wi/Humas

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *