
Rektor Institut Agama Islam Negeri Sorong, Dr. Suparto Iribaram, S.Sos., M.A., memberikan dukungan penuh terhadap rancangan proyek perubahan bertajuk “IAIN Sa Pu Cinta: Kepemimpinan Adaptif dalam Mewujudkan Kampus Cinta Berbasis Kearifan Lokal di IAIN Sorong.”
Proyek perubahan tersebut dipaparkan secara virtual melalui platform Zoom pada 24 September 2026 sebagai bagian dari rangkaian Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXX yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen, Kepemimpinan, dan Moderasi Beragama, Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Agama RI Tahun 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Suparto Iribaram hadir dalam kapasitas sebagai mentor, mendampingi Dr. Anwar Darwis, S.E., M.Pd., yang mengusung proyek perubahan tersebut.
Rancangan ini menempatkan kepemimpinan adaptif sebagai pendekatan untuk membangun ekosistem kampus yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan kelembagaan, tetapi juga mengembangkan nilai cinta, penghormatan terhadap keberagaman, serta penguatan identitas lokal. Dokumen proyek perubahan tersebut secara khusus mengangkat gagasan kampus cinta berbasis kearifan lokal di IAIN Sorong.
Menurut kerangka yang dikembangkan dalam proyek perubahan itu, “IAIN Sa Pu Cinta” diarahkan sebagai salah satu upaya mengimplementasikan visi dan misi IAIN Sorong melalui integrasi sejumlah nilai strategis. Di antaranya adalah Kurikulum Berbasis Cinta, moderasi beragama, dan kearifan lokal Papua melalui filosofi “Satu Tungku Tiga Batu.”
Integrasi tersebut menjadi penting karena kehidupan kampus di Papua tidak dapat dilepaskan dari realitas sosial dan budaya masyarakat yang plural. Karena itu, nilai-nilai kelembagaan diharapkan dapat diterjemahkan ke dalam praktik pendidikan, kepemimpinan, pelayanan, dan interaksi warga kampus.
Dr. Suparto menilai rancangan tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan arah pengembangan IAIN Sorong. Sebagai mentor, ia memberikan dukungan terhadap gagasan perubahan yang berupaya menjadikan nilai-nilai lokal bukan sekadar simbol identitas, melainkan bagian dari praktik kelembagaan.
Pendekatan ini juga membuka ruang bagi IAIN Sorong untuk memperkuat karakter sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam yang tumbuh dalam konteks masyarakat Papua yang memiliki keragaman budaya, agama, dan tradisi.
Kehadiran konsep “Satu Tungku Tiga Batu” menjadi salah satu elemen penting dalam gagasan tersebut. Filosofi yang merepresentasikan kehidupan bersama, keseimbangan, dan relasi antarkomunitas itu ditempatkan berdampingan dengan agenda moderasi beragama dan Kurikulum Berbasis Cinta.
Dengan demikian, proyek perubahan tidak semata-mata berbicara mengenai inovasi manajerial, tetapi juga mengenai bagaimana kepemimpinan mampu membaca konteks lokal dan menerjemahkannya menjadi kekuatan dalam membangun budaya organisasi kampus.
Melalui proyek “IAIN Sa Pu Cinta”, IAIN Sorong diharapkan semakin mampu mengembangkan tata kelola dan budaya akademik yang adaptif sekaligus berakar pada nilai-nilai lokal. Dukungan Rektor sebagai mentor menjadi bagian penting dalam memastikan gagasan perubahan tersebut tetap terhubung dengan visi dan misi institut.
Proyek ini sekaligus menegaskan bahwa pengembangan perguruan tinggi di Papua membutuhkan kepemimpinan yang mampu mempertemukan nilai kelembagaan, moderasi beragama, pendidikan berbasis cinta, dan kearifan lokal dalam satu gerak perubahan yang kontekstual.
Penulis : Nir/ Humas
Editor : wi / Humas