REKTOR IAIN SORONG SOROTI TANTANGAN DEMOKRASI DI ERA VUCA

Humas IAIN Sorong –  Rektor Institut Agama Islam Negeri Sorong, Dr. Suparto Iribaram, S.Sos., M.A., dijadwalkan menjadi salah satu panelis dalam kegiatan bedah buku Mendayung Demokrasi di Era VUCA karya Radian Syam yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Sorong, Kamis (01/10/2026).

Kegiatan tersebut mengangkat pembahasan mengenai demokrasi, ruang publik, pemilu, partai politik, serta kebijakan hukum dalam menghadapi perubahan sosial dan politik yang semakin kompleks. PANELIS buku Mendayung Demokrasi di Era VUCA

Dalam materi panelnya, Suparto menempatkan buku tersebut sebagai bahan refleksi untuk melihat demokrasi secara lebih luas, bukan semata-mata sebagai mekanisme penyelenggaraan pemilu.

Menurutnya, demokrasi juga ditopang oleh kualitas ruang publik, transparansi politik, kapasitas partai dalam melakukan kaderisasi, independensi lembaga hukum, perlindungan hak warga negara, serta kemampuan institusi negara merespons perubahan. Perspektif tersebut menjadi penting ketika demokrasi berhadapan dengan kondisi volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity atau VUCA.

Suparto juga memberikan perhatian khusus terhadap perubahan ruang publik akibat perkembangan teknologi digital. Dalam catatannya, media sosial telah membuka ruang partisipasi politik yang lebih luas, tetapi pada saat yang sama menghadirkan persoalan seperti polarisasi, disinformasi, manipulasi opini, dan bias algoritma.

Karena itu, menurut Suparto, perkembangan ruang publik digital perlu dibaca tidak hanya dari sisi kemajuan teknologi, tetapi juga dari dampaknya terhadap kualitas komunikasi dan partisipasi demokratis.

Selain memberikan apresiasi terhadap gagasan utama buku, Suparto menyampaikan sejumlah catatan akademik. Ia menilai konsep VUCA perlu dioperasionalkan secara lebih jelas agar tidak berhenti sebagai istilah umum untuk menggambarkan berbagai persoalan zaman.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan data empiris, studi kasus, serta analisis mengenai hubungan antara perubahan opini publik, disinformasi, kepercayaan terhadap institusi, dan dinamika politik.

Menurut Suparto, demokrasi juga membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat sipil, dunia usaha, media, dan berbagai kelompok masyarakat. Namun, kolaborasi tersebut tidak boleh mengabaikan persoalan relasi kuasa.

Transparansi, kesetaraan, akuntabilitas, keterwakilan, dan evaluasi diperlukan agar kolaborasi tidak sekadar menjadi forum formal, tetapi benar-benar memberikan ruang bagi partisipasi publik. Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan buku yang menekankan penguatan kelembagaan dan kerja kolaboratif sebagai bagian dari upaya menjaga demokrasi di tengah ketidakpastian era VUCA.

Kehadiran Suparto dalam forum tersebut juga memperlihatkan peran perguruan tinggi dalam menghadirkan perspektif akademik dalam diskusi demokrasi di Papua Barat Daya.

Sebagai Rektor IAIN Sorong, Suparto saat ini memimpin kampus yang menempatkan penguatan pendidikan, moderasi, wawasan global, dan kearifan lokal sebagai bagian dari visi kelembagaannya. IAIN Sorong Melalui forum bedah buku ini, pembahasan demokrasi tidak hanya ditempatkan dalam perspektif nasional, tetapi juga dapat menjadi ruang refleksi bagi masyarakat Papua Barat Daya untuk melihat hubungan antara demokrasi, perkembangan teknologi, institusi publik, dan partisipasi masyarakat.

 

Penulis : Nir/ Humas 
Editor : wi / Humas
Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *