
HUMAS IAIN Sorong – Pernahkah kita membayangkan bahwa sebuah hobi sederhana saat masih kuliah bisa menjadi pintu menuju dunia profesional? Bagi Aldo Rio Dwi Valda, alumni Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Sorong yang lulus pada 2019, jawabannya adalah iya.
Dari kegemaran membuat video bersama teman-teman, menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di rumah produksi, hingga akhirnya membangun Bakarya Production, Rio membuktikan bahwa perjalanan menuju dunia kerja tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, semuanya berawal dari rasa suka, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus belajar.
Perjalanan Rio di dunia komunikasi dan industri kreatif mulai menemukan arahnya ketika menjalani PPL. Ia memilih rumah produksi sebagai tempat untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah. Di sanalah ia semakin merasakan bahwa dunia produksi media memang memiliki keterkaitan kuat dengan apa yang dipelajarinya di bangku perkuliahan.
“Awal ketertarikan itu dimulai saat PPL waktu kuliah. Di situlah awal mulanya saya bisa lebih terarah. Saya PPL di rumah produksi, karena saat kuliah mempelajari bidang yang sama, saya merasa cocok,” ungkap Rio.
Pengalaman tersebut bukan sekadar bagian dari kewajiban akademik. Bagi Rio, PPL justru menjadi titik yang mempertemukan teori dengan kenyataan di lapangan. Ia mulai memahami bahwa bekerja di industri media bukan hanya soal menghasilkan gambar atau video yang menarik, tetapi juga tentang bagaimana sebuah pesan dapat disampaikan kepada orang lain.
Di sinilah ilmu komunikasi yang diperoleh selama kuliah mulai terasa manfaatnya.
Menurut Rio, kemampuan yang paling banyak ia gunakan dalam dunia kerja justru bukan hanya keterampilan teknis, melainkan kemampuan berkomunikasi dengan baik. Komunikasi publik menjadi bekal penting ketika harus bertemu klien, mempresentasikan konsep, menjelaskan pekerjaan, hingga membangun hubungan dengan berbagai mitra.
“Ilmu yang paling bermanfaat sebenarnya adalah ilmu komunikasinya sendiri, seperti komunikasi publik. Itu sangat digunakan, misalnya bagaimana cara mempresentasikan pekerjaan di depan klien dan publik serta berkomunikasi dengan lancar kepada semua mitra kerja,” jelasnya.
Bagi seorang pekerja kreatif, kemampuan berbicara dan membangun hubungan tentu menjadi bagian yang tidak kalah penting dari kemampuan kamera maupun perangkat editing. Sebab, sebuah ide yang bagus tidak akan mudah diwujudkan jika tidak mampu dikomunikasikan dengan baik.
Menariknya, perjalanan Rio membangun Bakarya Production ternyata bermula dari sesuatu yang sangat sederhana: jalan-jalan bersama teman dan mengabadikan momen.
Saat masih menjadi mahasiswa, Rio bersama teman-temannya memiliki hobi membuat konten melalui Instagram. Mereka kemudian membentuk komunitas bernama Torang Bakarya, sebuah ruang bagi mereka untuk menyalurkan kegemaran membuat video, melakukan editing, dan memproduksi konten.
Awalnya mungkin hanya untuk bersenang-senang. Namun, siapa sangka kegiatan tersebut justru membuka jalan menuju sesuatu yang lebih serius?
Setelah mendapatkan pengalaman melalui PPL, Rio dan teman-temannya mulai berani menerima pekerjaan-pekerjaan kecil. Dari proyek sederhana itulah mereka mulai melihat adanya peluang untuk mengembangkan kemampuan menjadi sesuatu yang lebih profesional.
“Teman-teman ternyata juga memiliki kegemaran yang sama, seperti membuat video, editing, dan produksi video. Setelah PPL, akhirnya kami beranikan lebih serius dan mulai mengambil job kecil-kecilan. Ternyata lumayan memiliki masa depan, sehingga kami seriuskan. Dari situlah muncul Bakarya Production,” tuturnya.
Dari hobi menjadi pengalaman, dari pengalaman menjadi pekerjaan, dan dari pekerjaan kemudian berkembang menjadi usaha. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa peluang terkadang hadir ketika seseorang berani mencoba sesuatu yang ia sukai.
Kini, kemampuan yang dibangun sejak masa kuliah telah membawanya mengerjakan berbagai produksi media, termasuk video profil kampus, profil perpustakaan, hingga company profile. Dalam setiap pekerjaan tersebut, ilmu yang diperoleh dari KPI tetap menjadi bagian penting.
Bagi Rio, keterampilan seperti videografi dan editing memang perlu terus diasah. Perkembangan teknologi dan industri kreatif membuat seseorang tidak boleh berhenti belajar. Namun, di balik semua keterampilan teknis itu, kemampuan berkomunikasi tetap menjadi fondasi utama.
Menghadapi klien, memahami keinginan mereka, mempresentasikan konsep, hingga mengatur tim merupakan bagian dari pekerjaan yang membutuhkan kemampuan komunikasi yang kuat.
“Videografi, editing, dan keterampilan lainnya itu sebenarnya umum dan masih bisa dipertajam lagi. Tetapi yang paling penting adalah komunikasi publik, bagaimana menghadapi klien dan mengatur tim,” katanya.
Tentu, perjalanan di dunia kreatif tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan yang paling sering dihadapi Rio adalah meyakinkan klien. Sebelum sebuah proyek dimulai, tim harus merancang konsep dan mempresentasikannya. Tidak cukup hanya memiliki ide yang bagus, ide tersebut harus mampu diterjemahkan dan disampaikan sehingga klien percaya terhadap konsep yang ditawarkan. Tantangan lainnya datang dari sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan manusia yaitu cuaca.
Dalam produksi video dan foto, waktu pengambilan gambar sangat menentukan kualitas hasil akhir. Pencahayaan, kondisi lingkungan, dan waktu menjadi pertimbangan penting. Namun, ketika cuaca berubah secara tiba-tiba, jadwal produksi pun dapat ikut berubah.
Di situlah kemampuan beradaptasi kembali diuji. Bekerja di industri kreatif ternyata bukan hanya tentang menghasilkan karya yang bagus, tetapi juga tentang bagaimana menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan rencana.
Menariknya, meskipun kini telah memiliki perusahaan sendiri dan aktif di bidang media, Rio sebenarnya pernah memiliki cita-cita untuk bekerja di televisi nasional.
“Dari dulu saya sangat ingin bekerja di media TV nasional. Bagaimanapun dulu media TV menjadi primadona. Cuma mungkin belum jalannya. Namun, saya masih bergerak di bidang yang sama, jadi masih bisa,” ujarnya.
Kalimat tersebut menyimpan pesan sederhana tetapi kuat: tidak semua cita-cita harus dicapai dengan jalan yang sama seperti yang kita bayangkan.
Ketika satu pintu belum terbuka, bukan berarti perjalanan harus berhenti. Rio tetap berada di dunia yang ia sukai, hanya saja melalui jalur yang berbeda. Dari televisi yang pernah menjadi impian, ia kini menemukan ruang berkarya melalui produksi media dan industri kreatif.
Perjalanan Rio Aldo juga menjadi gambaran bahwa lulusan KPI memiliki ruang yang luas untuk berkembang. Ilmu komunikasi dapat diterapkan dalam berbagai bidang, mulai dari media, produksi konten, videografi, hubungan dengan klien, hingga membangun usaha sendiri.
Bagi mahasiswa yang saat ini masih duduk di bangku kuliah, kisah Rio mungkin menjadi pengingat bahwa tidak perlu menunggu lulus untuk mulai mencari pengalaman. PPL, organisasi, komunitas, proyek kecil, bahkan hobi yang dilakukan bersama teman dapat menjadi langkah awal untuk menemukan arah karier.
Tidak harus langsung memiliki perusahaan. Tidak harus langsung mendapatkan proyek besar. Yang terpenting adalah berani memulai, terus belajar, dan tidak takut mencoba.
Kisah Rio juga menjadi bagian dari upaya Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Sorong untuk memperkenalkan kiprah alumninya kepada mahasiswa dan masyarakat. Keberhasilan alumni menjadi salah satu gambaran bahwa proses pendidikan di kampus dapat menjadi bekal untuk melangkah ke berbagai bidang kehidupan profesional.
Hari ini, Rio tidak hanya membawa nama dirinya sendiri. Ia juga membawa cerita tentang bagaimana seorang mahasiswa KPI IAIN Sorong menemukan jalannya melalui pengalaman, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba.
Dari PPL yang sederhana, lahir pengalaman. Dari pengalaman, muncul keberanian mengambil pekerjaan. Dari pekerjaan, tumbuh sebuah usaha. Dan dari perjalanan itu, muncul sebuah pesan yang mungkin relevan bagi siapa saja yang sedang mencari jalan menuju masa depan
Penulis : kar/Humas
Editor : wi/Humas