
HUMAS IAIN Sorong – Menjadi lulusan terbaik bukan selalu tentang bagaimana seseorang mampu menjalani semuanya dengan sempurna. Ada proses panjang yang diwarnai kerja keras, adaptasi, dukungan orang-orang terdekat, hingga keberanian untuk tetap bertahan ketika keadaan tidak berjalan mudah. Hal tersebut tergambar dari perjalanan Via Luftiatun Nabila, lulusan terbaik Fakultas Tarbiyah IAIN Sorong dari Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) pada Wisuda IAIN Sorong Tahun 2026 dengan IPK 4,00 Predikat Dengan Pujian.
Bagi Via, pencapaian yang diraihnya tidak lahir dari kemampuan membagi waktu secara sempurna. Ia justru belajar bahwa setiap tanggung jawab memiliki waktunya masing-masing untuk diselesaikan. Karena itu, ia memilih untuk menjalani setiap tanggung jawab dengan sebaik mungkin dan berusaha tidak menunda pekerjaan.
“Menurut saya, kuncinya adalah berusaha menjalani setiap tanggung jawab dengan sebaik mungkin dan tidak menunda-nunda pekerjaan,” ungkap Via.
Ia menyadari bahwa dalam menjalani aktivitas sebagai mahasiswa, ada kalanya satu tanggung jawab harus mendapatkan perhatian lebih besar dibandingkan yang lain. Namun, ia berusaha memastikan bahwa tanggung jawab yang sempat ditunda tetap diselesaikan setelahnya.
Bagi Via, membagi waktu bukan berarti harus memberikan porsi yang sama untuk setiap kegiatan. Hal yang lebih penting adalah memastikan setiap tanggung jawab tetap berjalan dengan baik tanpa mengabaikan salah satunya. Pola sederhana tersebut menjadi salah satu cara yang membantunya melewati berbagai tahapan selama masa perkuliahan hingga akhirnya meraih predikat lulusan terbaik.
Sebagai lulusan PGMI, Via juga memiliki perhatian khusus terhadap bagaimana proses pembelajaran dapat dibuat lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Gagasan tersebut tidak hanya lahir dari pengalaman akademik selama kuliah, tetapi juga dari pengalaman langsung yang kini sedang dijalaninya sebagai seorang guru.
Sejak Mei 2026, Via telah mengajar di salah satu sekolah dasar di Fef, Kabupaten Tambrauw. Pengalaman tersebut membuatnya melihat secara langsung bahwa setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan cara belajar yang berbeda. Perbedaan tersebut menjadi alasan baginya untuk menerapkan pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan, dan dekat dengan lingkungan peserta didik.
“Saya ingin membawa pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Setiap anak memiliki karakter dan cara belajar yang berbeda, sehingga pembelajaran perlu dibuat lebih aktif dan menyenangkan,” jelasnya.
Menurut Via, salah satu pendekatan yang ingin terus dikembangkan adalah menghubungkan materi pembelajaran dengan lingkungan yang ada di sekitar siswa. Dengan cara tersebut, peserta didik tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga dapat melihat hubungan antara apa yang dipelajari dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Baginya, menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran. Guru juga perlu memahami karakter peserta didik dan menciptakan suasana belajar yang membuat anak merasa nyaman untuk bertanya, mencoba, dan berkembang.
Namun, perjalanan Via hingga mencapai titik tersebut tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang pernah dihadapinya adalah ketika harus meninggalkan keluarga di kampung dan datang ke Sorong untuk melanjutkan pendidikan.
Perpindahan tersebut membuatnya harus beradaptasi dengan lingkungan, budaya, serta orang-orang baru yang berbeda dari tempat asalnya. Pada awalnya, proses tersebut bukan sesuatu yang mudah. Ada rasa asing dan berbagai tantangan yang harus dihadapi secara perlahan.
Seiring berjalannya waktu, Via mulai menemukan lingkungan yang membuatnya nyaman. Ia bertemu dengan teman-teman yang memiliki frekuensi yang sama serta banyak orang baik yang memberikan warna baru dalam perjalanan perkuliahannya.
Dari pengalaman tersebut, ia mendapatkan satu pelajaran penting: jangan mudah menyerah hanya karena sesuatu terasa sulit di awal. Baginya, jika saat itu memilih menyerah, mungkin ia tidak akan sampai pada titik yang diraihnya sekarang.
“Kalau dulu saya menyerah, mungkin saya tidak akan mendapatkan apa yang saya miliki sekarang. Dari situ saya belajar untuk tidak mudah menyerah hanya karena sesuatu terasa sulit di awal,” tuturnya.
Dalam perjalanan tersebut, keluarga menjadi sumber motivasi terbesar bagi Via. Ia menyebut mama dan bapanya sebagai sosok yang selalu mengajarkannya untuk tetap kuat dan tidak mudah menyerah dalam menjalani setiap proses.
Selain keluarga, dosen pembimbingnya yang juga merupakan Kepala Program Studi PGMI turut menjadi sosok penting dalam perjalanan akademiknya. Dari dosen tersebut, Via mengaku banyak belajar tentang arti tanggung jawab dan pentingnya percaya terhadap proses yang sedang dijalani.
Dukungan dari keluarga dan bimbingan dosen menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Via hingga meraih predikat lulusan terbaik. Baginya, keberhasilan tidak datang dari usaha sendiri semata, tetapi juga dari orang-orang yang memberikan dukungan, arahan, dan kepercayaan di sepanjang perjalanan.
Sebagai lulusan PGMI, Via juga memiliki pandangan mengenai peran penting seorang guru dalam membentuk karakter generasi muda. Menurutnya, lulusan PGMI tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan pengetahuan dan nilai-nilai agama kepada anak-anak, tetapi juga perlu menanamkan sikap saling menghargai dan toleransi.
Pandangan tersebut menjadi semakin penting dalam konteks Papua Barat Daya yang memiliki masyarakat dengan latar belakang agama, suku, budaya, dan tradisi yang beragam. Pendidikan di tingkat dasar menjadi salah satu ruang penting untuk mengenalkan nilai keberagaman kepada anak sejak dini.
Via berharap lulusan PGMI dapat berperan dalam membentuk generasi muda Muslim yang memiliki pemahaman agama dan pengetahuan yang baik, tetapi pada saat yang sama mampu hidup berdampingan secara harmonis dengan orang lain yang memiliki perbedaan latar belakang.
“Menurut saya, lulusan PGMI punya peran penting dalam membentuk karakter anak, bukan hanya dalam hal agama dan pengetahuan, tetapi juga dalam mengajarkan sikap saling menghargai dan toleransi,” ujarnya.
Bagi Via Nabila, predikat lulusan terbaik bukanlah akhir dari perjalanan. Justru, pencapaian tersebut menjadi awal untuk menjalani tanggung jawab yang lebih besar sebagai seorang pendidik. Pengalaman selama berkuliah di IAIN Sorong, proses adaptasi, dukungan keluarga, bimbingan dosen, hingga pengalaman mengajar di Tambrauw menjadi bekal yang akan terus ia bawa dalam perjalanan berikutnya.
Dengan semangat yang sederhana tetapi kuat, Via ingin terus belajar dan berkembang sebagai seorang guru. Ia percaya bahwa setiap anak memiliki potensi masing-masing dan tugas seorang pendidik adalah membantu mereka menemukan serta mengembangkan potensi tersebut.
Perjalanan Via menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari proses yang sempurna. Terkadang, keberhasilan justru tumbuh dari keberanian untuk terus berjalan, meskipun harus melewati masa-masa sulit. Dari Sorong hingga Fef, dari bangku kuliah hingga ruang kelas, Via Nabila kini membawa satu semangat yang sama: terus belajar, tidak mudah menyerah, dan memberikan manfaat melalui pendidikan.
Penulis : kar/Humas
Editor : wi/Humas